LOCUSonline, SURABAYA - Di tengah dunia kerja yang semakin kompetitif dan kadang terasa seperti permainan bertahan hidup, Momen sakral yang biasanya penuh haru ini juga diselipi pesan realistis dimana gelar sarjana hukum bukan tiket otomatis menuju karier mapan.
Dekan Fakultas Hukum Ubhara Surabaya, Karim, dalam sambutannya mengingatkan bahwa dunia hukum saat ini bukan lagi sekadar soal hafal pasal, tetapi juga soal kemampuan bertahan di tengah derasnya arus teknologi, regulasi yang kian kompleks, dan dinamika sosial yang berubah lebih cepat dari revisi undang-undang.
“Jangan ragu bersaing. Kalau bisa, jangan hanya jadi pencari kerja, tapi jadilah pencipta kerja,” ujarnya, seolah memberi sinyal bahwa ijazah saja tidak cukup untuk melawan realitas.
Sebanyak 67 lulusan yang dikukuhkan terdiri dari 45 sarjana (S1) dan 22 magister (S2). Mereka dilepas dengan harapan besar dan mungkin sedikit kecemasan untuk menghadapi dunia nyata yang sering kali tidak seideal teori di ruang kuliah.
Karim menegaskan bahwa kelulusan bukanlah garis finish, melainkan garis start menuju tantangan yang lebih kompleks. Dunia kerja, menurutnya, menuntut lebih dari sekadar nilai akademik. Adaptasi, keberanian dan tentu saja integritas.
Ia juga mengingatkan agar para lulusan menjaga nama baik almamater. Sebuah pesan klasik yang tetap relevan, terutama di tengah maraknya praktik hukum yang kadang lebih kreatif dari teks undang-undang itu sendiri.
Selain itu, para lulusan didorong untuk tetap terhubung melalui ikatan alumni. Bukan sekadar untuk reuni dan nostalgia, tetapi sebagai strategi bertahan hidup di dunia profesional yang semakin mengandalkan jaringan.
Dalam acara tersebut, fakultas juga memberikan penghargaan kepada lulusan berprestasi. Untuk program sarjana, predikat terbaik diraih oleh Tri Retno Octavian Pariska, sementara untuk program magister diraih oleh Rouli Dame Marbun.
Di balik seremoni yang khidmat, terselip ironi yang tak bisa diabaikan, lulusan hukum dihadapkan pada dunia yang menuntut lebih dari sekadar pemahaman hukum, ia menuntut fleksibilitas, kreativitas dan kadang sedikit keberanian untuk keluar dari zona nyaman.
Namun demikian, FH Ubhara Surabaya berharap para lulusan mampu menjawab tantangan zaman dengan mengedepankan kompetensi, integritas, serta kontribusi nyata bagi masyarakat.
Karena pada akhirnya, menjadi sarjana hukum bukan hanya soal memahami keadilan, tetapi juga tentang bagaimana tetap waras saat mencoba menegakkannya.*****