Masalah klasik lain muncul dari sisi anggaran. Program pemberdayaan perempuan dinilai sering kalah prioritas dibanding sektor lain, sehingga implementasi kebijakan menjadi setengah hati.
"Kalau anggaran kecil, bagaimana kebijakan bisa berjalan optimal?" ujarnya.
Di titik ini, realita berubah menjadi ironi dimana perempuan didorong maju, tapi bekalnya dikurangi.
Kondisi ini menegaskan bahwa penguatan kepemimpinan perempuan di Indonesia membutuhkan pendekatan menyeluruh, tidak hanya meningkatkan jumlah keterwakilan, tetapi juga membongkar hambatan budaya, memperbaiki sistem politik, dan memastikan dukungan kebijakan yang nyata.
Jika tidak, maka demokrasi hanya akan terus memproduksi simbol kesetaraan tanpa benar-benar menghadirkan keadilan.*****
Artikel Terkait
Pencopotan Dirjen Kemenkeu Mendadak: “Rotasi Biasa” yang Terlalu Cepat untuk Disebut Biasa
KPK Bongkar “Dapur Politik”: Rekomendasi Reformasi Partai Politik Diserahkan ke Presiden Prabowo dan DPR
"Shut Up KDM" di GBLA Saat Tribun Bicara, Politik Diminta Turun dari Lapangan Persib
Profil Muhammad Qodari Kepala Bakom RI: Dari Pengamat Politik ke "Dirigen Narasi" Pemerintah di Era Prabowo
Revisi UU Partai Politik Cahaya Ruang Gelap Demokrasi: DPR Soroti Pendanaan Parpol di Tengah "Tradisi Lama" Korupsi Politik
KPK Usul Pembatasan Uang Tunai di Pemilu 2026, Amplop Demokrasi Diminta Pensiun Dini
Jadwal Pertandingan dan Head To Head Persib vs Borneo FC: Rivalitas Juara 2025/2026 Diputuskan Lima Laga Terakhir
DPR Akui Mesin Demokrasi Butuh Servis Total, Bukan Sekadar Ganti Oli
Demokrasi Mahal, Integritas Jadi Korban Diskon: Data KPK Ungkap Kader Partai Paling Dominan dalam Kasus Korupsi
Usulan Yusril Picu Debat, Partai Kecil Diminta ‘Naik Kelas atau Gabung Klub’