LOCUSonline, JAKARTA – Pemilihan Umum (Pemilu) 2029 memang masih beberapa tahun lagi, namun suasana kompetisi politik sudah mulai terasa. Sejumlah partai politik tampak tak sabar menyiapkan strategi, target hingga mimpi besar yang kali ini kembali dikemas dalam paket optimisme khas tahun-tahun awal pemerintahan.
Di saat pemerintahan Prabowo Subianto bersama Gibran Rakabuming Raka bahkan belum genap dua tahun berjalan, para elite partai sudah mulai memanaskan mesin politik atau setidaknya mengencangkan mikrofon terlebih dahulu.
Melansir berita Kompas.com, Sekretaris Jenderal Partai Demokrat, Herman Khaeron, menyatakan target partainya sederhana yaitu suara harus naik, kursi harus bertambah dan kalau bisa mengulang kejayaan Pemilu 2009.
Kala itu, Demokrat meraih lebih dari 21 juta suara dan 148 kursi DPR. Sebuah capaian yang kini terdengar seperti kenangan manis yang ingin diputar ulang, meski konteks politik sudah berubah drastis.
Ketua Umum Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono, menambahkan bahwa kunci kemenangan adalah konsolidasi. Sebuah istilah yang dalam praktiknya bisa berarti dari rapat internal hingga menjaga suasana tetap keluarga yang tentu sambil tetap siap bersaing.
Baca Juga: Demokrasi Mahal, Integritas Jadi Korban Diskon: Data KPK Ungkap Kader Partai Paling Dominan dalam Kasus Korupsi
Partai Golkar juga tak mau ketinggalan. Melalui pernyataan Ahmad Sarmuji, partai berlambang beringin ini menargetkan kenaikan suara sekitar 20 persen.
Target tersebut terdengar realistis di atas kertas, meski dalam praktiknya sering kali bergantung pada variabel klasik dimana elektabilitas, strategi dan tentu saja dinamika politik yang sulit diprediksi.
Berbeda dari yang lain, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) memilih target yang lebih ambisius yakni kursi Presiden.
Wakil Ketua Umum PKB, Hanif Dhakiri, secara terbuka menyebut nama Muhaimin Iskandar sebagai kandidat yang diharapkan maju sebagai presiden atau wakil presiden pada 2029.
Di tengah kompetisi yang ketat, langkah ini menunjukkan satu hal dimana dalam politik mimpi besar sering diumumkan lebih dulu, realisasinya menyusul kemudian.
Sementara itu, Partai Gerindra yang saat ini menjadi pemenang pemilu justru mengingatkan kadernya untuk tidak lengah.
Ketua Harian Gerindra, Sufmi Dasco Ahmad, menegaskan bahwa kemenangan harus dijaga dengan kerja nyata, terutama dalam mengawal program pemerintahan.
Pesannya sederhana, menang itu sulit, mempertahankan lebih sulit apalagi jika ekspektasi publik terus meningkat.
Baca Juga: Revisi UU Partai Politik Cahaya Ruang Gelap Demokrasi: DPR Soroti Pendanaan Parpol di Tengah Tradisi Lama Korupsi Politik
Dari kubu PDI Perjuangan, Ganjar Pranowo menyampaikan pendekatan yang sedikit berbeda. Menurutnya, masyarakat kini tidak lagi mudah percaya pada janji politik.
Artikel Terkait
Profil Muhammad Qodari Kepala Bakom RI: Dari Pengamat Politik ke "Dirigen Narasi" Pemerintah di Era Prabowo
Revisi UU Partai Politik Cahaya Ruang Gelap Demokrasi: DPR Soroti Pendanaan Parpol di Tengah "Tradisi Lama" Korupsi Politik
KPK Usul Pembatasan Uang Tunai di Pemilu 2026, Amplop Demokrasi Diminta Pensiun Dini
Jadwal Pertandingan dan Head To Head Persib vs Borneo FC: Rivalitas Juara 2025/2026 Diputuskan Lima Laga Terakhir
DPR Akui Mesin Demokrasi Butuh Servis Total, Bukan Sekadar Ganti Oli
Demokrasi Mahal, Integritas Jadi Korban Diskon: Data KPK Ungkap Kader Partai Paling Dominan dalam Kasus Korupsi
Usulan Yusril Picu Debat, Partai Kecil Diminta ‘Naik Kelas atau Gabung Klub’
Kepemimpinan Perempuan di Indonesia Terhambat Patriarki, Kuota 30 Persen Masih Jadi Pajangan Demokrasi
7 Alasan Mobil SUV Layak Jadi Pilihan Utama Keluarga
Ketua Umum PDIP komentari Politik dan Hukum Indonesia Terlihat Sibuk, Tapi Masih Mencari Arah