Solusinya? Hadir langsung di tengah rakyat.
Pernyataan ini terdengar seperti kritik halus terhadap gaya kampanye lama yang seringkali lebih ramai di panggung daripada di lapangan.
Dilansir dari Kompas.com. Berdasarkan survei Poltracking Indonesia April 2026, elektabilitas partai menunjukkan:
- Gerindra: 26,1%
- PDI-P: 15,4%
- Golkar: 9,0%
- PKB: 8,1%
- PKS: 5,9%
- Demokrat: 5,6%
- NasDem: 5,5%
- PAN: 2,0%
Angka-angka ini menggambarkan satu hal bahwa peta politik masih terbuka dan semua partai masih punya ruang, baik untuk naik maupun tergelincir.
Dari berbagai target dan strategi yang mulai bermunculan, terlihat bahwa partai politik sudah memasuki mode kompetisi lebih awal.
Namun di sisi lain, publik mungkin masih menunggu hal yang lebih sederhana, realisasi program, perbaikan ekonomi dan kebijakan yang terasa langsung.
Karena pada akhirnya, Pemilu bukan hanya soal siapa paling siap berkampanye tetapi siapa yang paling mampu menjawab kebutuhan nyata.
Dan dalam politik Indonesia, janji memang selalu datang lebih cepat daripada hasil.
Artikel Terkait
Profil Muhammad Qodari Kepala Bakom RI: Dari Pengamat Politik ke "Dirigen Narasi" Pemerintah di Era Prabowo
Revisi UU Partai Politik Cahaya Ruang Gelap Demokrasi: DPR Soroti Pendanaan Parpol di Tengah "Tradisi Lama" Korupsi Politik
KPK Usul Pembatasan Uang Tunai di Pemilu 2026, Amplop Demokrasi Diminta Pensiun Dini
Jadwal Pertandingan dan Head To Head Persib vs Borneo FC: Rivalitas Juara 2025/2026 Diputuskan Lima Laga Terakhir
DPR Akui Mesin Demokrasi Butuh Servis Total, Bukan Sekadar Ganti Oli
Demokrasi Mahal, Integritas Jadi Korban Diskon: Data KPK Ungkap Kader Partai Paling Dominan dalam Kasus Korupsi
Usulan Yusril Picu Debat, Partai Kecil Diminta ‘Naik Kelas atau Gabung Klub’
Kepemimpinan Perempuan di Indonesia Terhambat Patriarki, Kuota 30 Persen Masih Jadi Pajangan Demokrasi
7 Alasan Mobil SUV Layak Jadi Pilihan Utama Keluarga
Ketua Umum PDIP komentari Politik dan Hukum Indonesia Terlihat Sibuk, Tapi Masih Mencari Arah