Pengamat komunikasi politik menilai gaya seperti ini sebenarnya bagian dari strategi populisme modern. Pemimpin membangun identitas sebagai wakil rakyat biasa dengan menciptakan jarak terhadap kelompok elite intelektual.
Tujuannya sederhana yaitu untuk membangun kedekatan emosional dengan masyarakat.
Namun jika terus dipelihara, narasi anti-intelektual dikhawatirkan menciptakan budaya publik yang makin alergi terhadap kritik, data dan pemikiran ilmiah.
Pada akhirnya, bangsa bisa terjebak pada situasi paradoks, semua ingin negara maju, tetapi orang yang berpikir terlalu serius justru dianggap masalah.*****
Artikel Terkait
"Shut Up KDM" di GBLA Saat Tribun Bicara, Politik Diminta Turun dari Lapangan Persib
Gen Z Menjauh dari Politik? Saat Panggung Demokrasi Terlalu Kaku, Konsep “SENI” Ditawarkan agar Tak Sepi Penonton
Gara-Gara Artis Titi Kamal dan Irfan Hakim Warga Garut Kuras Tabungannya Untuk Bisnis Monstera Variegata
EA Sports Bagikan Kode Redeem FC Mobile Terbaru: Paket Pemain OVR 115 dan Jutaan Koin Gratis!
Demokrasi Versi Take Down : Amien Rais Bicara Kebebasan, Pemerintah Bicara Tombol Hapus
Demokrasi Indonesia Berjalan di Tempat: Pemilu Rutin Digelar, Arah Politik Masih Muter di Sini-Sini Aja
Perempuan di Politik Masih Kerja Lembur Tanpa Deadline, Nurul Arifin Sebut PR Kesetaraan Belum Tamat
Demokrasi Pancasila Butuh Servis Besar, Bambang Soesatyo Soroti Partai Politik yang Masih Sering Mogok di Tengah Jalan
Program MBG Disebut Bukan Alat Politik 2029 Katanya!, Amran Sulaiman: Anak Balita Belum Bisa Nyoblos Jadi Aman dari Kampanye
Drama Ade Armando dan Dilema PSI antara Kebebasan Kritik vs Stabilitas Politik