Meski tidak lagi duduk di Istana, nama Jokowi rupanya masih dianggap punya daya magnet elektoral dan sosial yang belum habis masa tayangnya.
Sejak purnatugas pada Oktober 2024, Jokowi memang lebih jarang tampil di depan publik. Dalam beberapa kesempatan, publik sempat menyoroti perubahan pada wajah dan lehernya yang terlihat mengalami pembengkakan serta perubahan warna kulit.
Kondisi itu memunculkan berbagai spekulasi di media sosial, termasuk rumor bahwa Jokowi mengidap Stevens-Johnson Syndrome (SJS), penyakit langka akibat reaksi alergi berat.
Namun, asisten pribadi Jokowi, Kombes Syarif Muhammad Fitriansyah, telah membantah kabar tersebut. Ia menegaskan kondisi yang dialami Jokowi hanya alergi kulit ringan dan bukan penyakit serius seperti yang ramai diperbincangkan publik.
Kini, dengan klaim kesehatan sudah 99 persen pulih, Jokowi tampaknya siap kembali turun ke lapangan. Bedanya, kali ini tanpa status presiden, tetapi tetap membawa modal paling penting dalam politik Indonesia: popularitas dan kedekatan dengan rakyat.*****
Artikel Terkait
"Shut Up KDM" di GBLA Saat Tribun Bicara, Politik Diminta Turun dari Lapangan Persib
Gen Z Menjauh dari Politik? Saat Panggung Demokrasi Terlalu Kaku, Konsep “SENI” Ditawarkan agar Tak Sepi Penonton
Perempuan di Politik Masih Kerja Lembur Tanpa Deadline, Nurul Arifin Sebut PR Kesetaraan Belum Tamat
Demokrasi Pancasila Butuh Servis Besar, Bambang Soesatyo Soroti Partai Politik yang Masih Sering Mogok di Tengah Jalan
Program MBG Disebut Bukan Alat Politik 2029 Katanya!, Amran Sulaiman: Anak Balita Belum Bisa Nyoblos Jadi Aman dari Kampanye
Drama Ade Armando dan Dilema PSI antara Kebebasan Kritik vs Stabilitas Politik
Prabowo dan Sindiran ke “Orang Pintar”: Politik Anti-Elit Makin Laku, Akademisi Jadi Sasaran Guyonan
RUU Pemilu Kembali Digodok: Partai Kecil Menolak Suara Rakyat Dibuang, Elite Besar Jangan Main Borong Demokrasi
Bamsoet Soroti Polarisasi Politik Indonesia: Rakyat Terbelah, Hukum Dipertanyakan, DPR Malah Diminta Dibubarkan
Heboh Bupati Jalin Hubungan Terlarang: Ketika Drama Politik Diduga Berawal dari Luka Pribadi