LOCUSonline, JAKARTA - Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah, Din Syamsuddin, kembali mengingatkan umat Islam agar tidak menjadikan perbedaan organisasi, pilihan politik, maupun pandangan keagamaan sebagai alasan untuk saling bermusuhan. Sebab di negeri ini, perbedaan pilihan capres kadang lebih panas daripada rebutan warisan keluarga.
Pesan itu disampaikan Din saat mengisi khutbah Idul Adha di Masjid Agung Al-Azhar, Jakarta Selatan, Rabu (27/5/2026). Di hadapan jamaah, Din menyoroti kondisi umat Islam Indonesia yang jumlahnya besar, tetapi masih sering sibuk bertengkar soal perbedaan mazhab, organisasi, hingga afiliasi politik, seolah surga memiliki bilik khusus berdasarkan pilihan partai.
"Janganlah umat ini hanya karena perbedaan organisasi, hanya karena perbedaan paham keagamaan, hanya karena perbedaan aspirasi dan kepentingan politik kemudian kita terjebak pada perpecahan di antara kita," tegas Din dalam khutbahnya.
Dalam suasana Idul Adha yang identik dengan pengorbanan, Din tampaknya sedang mengajak umat mengorbankan ego politik yang biasanya sulit disembelih, bahkan lebih alot daripada daging kurban tiga kilogram.
Ia menegaskan bahwa konflik internal hanya akan membuat umat kehilangan kewibawaan dan kekuatan sosialnya. Din bahkan mengutip pesan Al-Qur’an agar umat tidak saling bertikai karena ujungnya bukan kemenangan, melainkan kelelahan kolektif dan status Facebook bernada sindiran.
"Jangan berkonflik, jangan bertikai karena kalian akan gagal dan kewibawaan kalian akan hilang," katanya.
Din juga menyinggung ironi klasik yang terus menghantui umat Islam Indonesia: jumlah besar, tetapi pengaruh ekonomi dan kualitas sumber daya masih tertatih. Menurutnya, umat Islam di Indonesia unggul secara statistik, tetapi belum otomatis unggul dalam penguasaan ekonomi, pendidikan, maupun pengambilan kebijakan strategis.
"Kita masih tertinggal dalam berbagai aspek kehidupan, baik sosial, ekonomi, maupun politik," ujarnya.
Pernyataan itu terasa seperti rapor nasional yang dibacakan di depan kelas besar bernama Indonesia dimana muridnya paling banyak, tetapi ranking ekonominya masih rebutan bangku belakang.
Din menilai umat Islam belum benar-benar menjadi kekuatan dominan dalam kehidupan nasional meskipun secara populasi sangat besar. Dalam sektor ekonomi misalnya, ia menyebut umat Islam justru sering berada di pinggir arena, menjadi penonton setia pertumbuhan ekonomi yang tiket masuknya makin mahal.
Di tengah meningkatnya polarisasi sosial akibat politik dan perbedaan pandangan agama, Din mengajak umat mengedepankan prinsip toleransi dan persaudaraan. Menurutnya, sesama muslim seharusnya mampu menerima perbedaan tanpa harus mengubah masjid menjadi arena debat permanen.
"Lakum ra’yukum wa liya ra’yi, bagimu pendapatmu, bagiku pendapatku. Tetapi kita tetap bersaudara," tutur Din.
Artikel Terkait
Profil Muhammad Qodari Kepala Bakom RI: Dari Pengamat Politik ke "Dirigen Narasi" Pemerintah di Era Prabowo
Revisi UU Partai Politik Cahaya Ruang Gelap Demokrasi: DPR Soroti Pendanaan Parpol di Tengah "Tradisi Lama" Korupsi Politik
KPK Usul Pembatasan Uang Tunai di Pemilu 2026, Amplop Demokrasi Diminta Pensiun Dini
Jadwal Pertandingan dan Head To Head Persib vs Borneo FC: Rivalitas Juara 2025/2026 Diputuskan Lima Laga Terakhir
DPR Akui Mesin Demokrasi Butuh Servis Total, Bukan Sekadar Ganti Oli
Demokrasi Mahal, Integritas Jadi Korban Diskon: Data KPK Ungkap Kader Partai Paling Dominan dalam Kasus Korupsi
Usulan Yusril Picu Debat, Partai Kecil Diminta ‘Naik Kelas atau Gabung Klub’
Kepemimpinan Perempuan di Indonesia Terhambat Patriarki, Kuota 30 Persen Masih Jadi Pajangan Demokrasi
7 Alasan Mobil SUV Layak Jadi Pilihan Utama Keluarga
Ketua Umum PDIP komentari Politik dan Hukum Indonesia Terlihat Sibuk, Tapi Masih Mencari Arah