Kalimat itu terdengar sederhana, namun cukup revolusioner di zaman ketika unfollow media sosial lebih sering terjadi karena beda pilihan politik dibanding beda selera musik.
Din juga mengingatkan bahwa para ulama dan tokoh bangsa terdahulu telah berkorban untuk mendirikan Indonesia. Karena itu, generasi sekarang seharusnya melanjutkan perjuangan tersebut dengan kontribusi nyata, bukan sekadar aktif membuat thread panjang penuh kemarahan di media sosial.
Ia mengajak umat Islam mengambil peran lebih besar dalam memajukan bangsa dan membebaskan Indonesia dari berbagai bentuk kemungkaran sosial, politik, dan ekonomi.
"Ini saatnya umat Islam menampilkan pengorbanan bagi kemajuan bangsa dan negara," tegasnya.
Di tengah suasana politik yang sering membuat perbedaan kecil terasa seperti perang dunia mini, khutbah Din Syamsuddin menjadi pengingat bahwa persatuan umat rupanya masih jauh lebih sulit diwujudkan dibanding menyatukan keluarga besar saat pembagian daging kurban.*****
Artikel Terkait
Profil Muhammad Qodari Kepala Bakom RI: Dari Pengamat Politik ke "Dirigen Narasi" Pemerintah di Era Prabowo
Revisi UU Partai Politik Cahaya Ruang Gelap Demokrasi: DPR Soroti Pendanaan Parpol di Tengah "Tradisi Lama" Korupsi Politik
KPK Usul Pembatasan Uang Tunai di Pemilu 2026, Amplop Demokrasi Diminta Pensiun Dini
Jadwal Pertandingan dan Head To Head Persib vs Borneo FC: Rivalitas Juara 2025/2026 Diputuskan Lima Laga Terakhir
DPR Akui Mesin Demokrasi Butuh Servis Total, Bukan Sekadar Ganti Oli
Demokrasi Mahal, Integritas Jadi Korban Diskon: Data KPK Ungkap Kader Partai Paling Dominan dalam Kasus Korupsi
Usulan Yusril Picu Debat, Partai Kecil Diminta ‘Naik Kelas atau Gabung Klub’
Kepemimpinan Perempuan di Indonesia Terhambat Patriarki, Kuota 30 Persen Masih Jadi Pajangan Demokrasi
7 Alasan Mobil SUV Layak Jadi Pilihan Utama Keluarga
Ketua Umum PDIP komentari Politik dan Hukum Indonesia Terlihat Sibuk, Tapi Masih Mencari Arah