Pengamat komunikasi politik menilai gaya seperti ini sebenarnya bagian dari strategi populisme modern. Pemimpin membangun identitas sebagai wakil rakyat biasa dengan menciptakan jarak terhadap kelompok elite intelektual.
Tujuannya sederhana yaitu untuk membangun kedekatan emosional dengan masyarakat.
Namun jika terus dipelihara, narasi anti-intelektual dikhawatirkan menciptakan budaya publik yang makin alergi terhadap kritik, data dan pemikiran ilmiah.
Pada akhirnya, bangsa bisa terjebak pada situasi paradoks, semua ingin negara maju, tetapi orang yang berpikir terlalu serius justru dianggap masalah.*****