LOCUSonline - Nilai tukar rupiah kembali menunjukkan bakat alaminya sebagai atlet olahraga ekstrem di pasar keuangan. Pada perdagangan Jumat (29/5/2026), rupiah bergerak makin dekat ke level psikologis Rp 17.900 per dollar Amerika Serikat (AS), sebuah angka yang kini mulai terasa lebih sering muncul dibanding kabar harga minyak goreng turun.
Di pasar spot, rupiah tercatat melemah ke posisi Rp 17.893 per dollar AS atau turun sekitar 48 poin. Kondisi tersebut membuat publik kembali akrab dengan ritual lama, membuka aplikasi kurs valuta asing sambil berharap angka merah tiba-tiba berubah jadi hijau karena belas kasih pasar global.
Tidak hanya terhadap dollar AS, rupiah juga sempat tersungkur di hadapan dollar Singapura hingga menyentuh level Rp 14.000. Meski kemudian sedikit membaik ke kisaran Rp 13.982, kondisi itu tetap dianggap sebagai salah satu titik terlemah sepanjang sejarah hubungan rupiah dan mata uang Negeri Singa.
Ironisnya, bagi sebagian masyarakat Indonesia, dollar Singapura kini mulai terasa seperti mata uang tetangga yang sukses duluan, sementara rupiah masih sibuk mencari titik keseimbangan di tengah badai sentimen pasar dan kekhawatiran fiskal.
Melansir berita Kompas. Analis mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menilai pelemahan rupiah terhadap dollar Singapura menjadi sinyal bahwa tekanan terhadap mata uang domestik belum benar-benar reda. Menurutnya, pasar masih memandang rupiah berada dalam posisi rawan akibat kombinasi faktor global dan persoalan fundamental dalam negeri.
"Rupiah terhadap dollar Singapura sudah mendekati Rp 14.000 dan masih berpotensi melemah lebih jauh hingga kisaran Rp 15.000 sampai Rp 16.000," ujar Ibrahim.
Pernyataan tersebut tentu membuat masyarakat kembali menghitung ulang rencana liburan, biaya pendidikan luar negeri, hingga harga barang impor yang perlahan mulai terasa seperti produk premium eksklusif.
Ibrahim menjelaskan, salah satu faktor utama yang membebani rupiah adalah kekhawatiran investor terhadap kondisi fiskal Indonesia. Sejumlah program pemerintah dengan anggaran jumbo dinilai memunculkan pertanyaan tentang kemampuan negara menjaga stabilitas defisit anggaran di tengah tekanan ekonomi global.
Di saat pemerintah sibuk merancang proyek besar, pasar justru tampak seperti tamu undangan yang diam-diam menghitung total tagihan di meja kasir.
Sejak awal tahun 2026, dollar Singapura sendiri tercatat telah menguat sekitar 7,34 persen terhadap rupiah. Artinya, warga Indonesia yang sering berbelanja atau bekerja lintas negara kini mulai merasakan bahwa menukar uang ke Singapura perlahan menyerupai latihan mental sekaligus finansial.
Para pelaku pasar menilai pelemahan rupiah saat ini bukan sekadar persoalan teknikal, melainkan cerminan meningkatnya kehati-hatian investor terhadap prospek ekonomi domestik. Jika tekanan global dan ketidakpastian fiskal belum mereda, nilai tukar rupiah diperkirakan masih akan bergerak fluktuatif dalam beberapa waktu ke depan.
Sementara itu, masyarakat kecil hanya bisa berharap satu hal sederhana: semoga harga kebutuhan pokok tidak ikut bergerak secepat kurs dollar yang tampaknya makin rajin mencetak rekor baru.*****
Artikel Terkait
Cek Bansos! Proses Pencairan Bansos PKH dan BPNT 2026 Masih Berjalan, KPM Jangan Panik Jika Saldo Belum Masuk
Jadwal dan Cara Cek PKH 2026 Lewat HP, Lengkap dengan Penyebab Bansos Gagal Cair
Info IHSG Anjlok Sendirian di Asia, Investor Panik Usai MSCI dan Kebijakan Ekspor Prabowo Bikin Pasar “Masuk Angin”
Harga Emas Hari Ini Kamis 21 Mei 2026: Antam, UBS, dan Galeri 24 Bergerak, Investor Mulai Berburu Logam Mulia
Isu Pembatasan Pertalite 1 Juni 2026 Bikin Heboh, Netizen Sudah Panik Duluan Sebelum Pemerintah Bicara
Dugaan Manipulasi Harga Ekspor CPO Terbongkar, Negara Diduga Cuma Kebagian “Ampas Sawit”
Info IHSG Hari Ini Hijau Tipis di Awal Pekan, Investor Diajak Bersyukur Meski Portofolio Masih “Diet Ketat”
Info IHSG Tumbang ke Zona Merah, Investor Lokal Kembali Diajak Latihan Mental Gratis
Info Harga Rupiah Tembus Rp17.855 per Dolar AS, Mata Uang RI Kini Jadi Samsak Ekonomi Global
Skandal Ekspor CPO: Sawit RI Diduga “Disulap” Murah di Singapura, Negara Cuma Bisa Geleng-Geleng Faktur