LOCUSonline - Drama industri sawit nasional kembali memasuki episode yang membuat publik bertanya-tanya, apakah minyak sawit Indonesia diekspor atau justru sedang bermain sulap angka di meja dokumen internasional? Nama raksasa agribisnis Wilmar International ikut terseret dalam dugaan manipulasi harga ekspor crude palm oil (CPO) yang diungkap pemerintah.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa sebelumnya menyebut ada 10 perusahaan eksportir sawit yang diduga melakukan praktik under invoicing atau pencatatan harga ekspor lebih rendah dari nilai sebenarnya. Modus ini diduga membuat harga sawit yang berangkat dari Indonesia terlihat murah, lalu tiba-tiba tampil cantik dengan harga jauh lebih tinggi saat tiba di pasar global melalui Singapura.
Dalam keterbukaan informasi di Bursa Singapura, Wilmar tidak secara tegas membantah tuduhan tersebut. Perusahaan hanya menyatakan belum menerima pemberitahuan resmi mengenai penyelidikan yang dimaksud.
Meski demikian, Wilmar mengaku tengah berkoordinasi dengan otoritas terkait untuk memahami kekhawatiran pemerintah. Sikap ini dinilai publik mirip respons klasik korporasi modern, belum tahu masalahnya apa tetapi sudah siap bekerja sama sambil menunggu surat resmi datang ke meja direksi.
Baca Juga: Info IHSG Tumbang ke Zona Merah, Investor Lokal Kembali Diajak Latihan Mental Gratis
Perusahaan juga memastikan akan memberi penjelasan kepada investor jika nantinya benar menerima pemberitahuan resmi terkait dugaan under invoicing maupun transfer pricing ekspor sawit.
Sementara itu, Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia atau GAPKI mencoba tampil sebagai penengah suasana. Ketua Umum GAPKI, Eddy Martono, menyatakan mendukung penuh penegakan hukum apabila memang ditemukan pelanggaran.
Menurutnya, kasus ini perlu segera diselesaikan agar industri sawit nasional tidak terus diguncang kegaduhan. Sebab di tengah tekanan global terhadap produk sawit Indonesia, pelaku industri tampaknya tidak ingin ditambah drama harga sawit hilang separuh di perjalanan.
Purbaya sendiri mengungkapkan pola dugaan manipulasi dilakukan melalui perusahaan trading di Singapura. Skemanya disebut sederhana tetapi berdampak besar, harga ekspor dicatat normal di Indonesia, namun saat transit di Singapura, nilai dokumen berubah menjadi jauh lebih rendah sebelum akhirnya dijual kembali ke Amerika Serikat dengan selisih harga fantastis.
"Di sini benar, di sananya salah," kira-kira begitu inti penjelasan pemerintah yang membuat publik kembali sadar bahwa perjalanan sawit ternyata lebih berliku daripada hubungan percintaan generasi digital.
Pemerintah menyebut selisih harga dalam praktik tersebut bahkan bisa mencapai 50 persen. Jika benar terjadi, maka negara berpotensi kehilangan penerimaan besar dari sektor ekspor unggulan nasional tersebut.
Selain Wilmar, nama Musim Mas Group juga disebut masuk daftar perusahaan yang diduga terlibat. Sementara PT Salim Ivomas Pratama Tbk disebut kemungkinan turut tercatat, meski pemerintah belum memberikan kepastian penuh.
Kasus ini kembali memperlihatkan ironi klasik ekonomi nasional, sawit disebut sebagai emas hijau Indonesia, tetapi keuntungan besarnya kadang justru lebih cepat terbang ke luar negeri dibanding kembali ke kas negara.
Publik kini menunggu langkah lanjutan pemerintah. Sebab jika dugaan ini benar terbukti, maka persoalannya bukan lagi sekadar administrasi ekspor, melainkan pertanyaan lama yang terus menghantui: siapa sebenarnya yang paling menikmati kekayaan alam Indonesia?*****
Artikel Terkait
Cek Bansos! Proses Pencairan Bansos PKH dan BPNT 2026 Masih Berjalan, KPM Jangan Panik Jika Saldo Belum Masuk
Jadwal dan Cara Cek PKH 2026 Lewat HP, Lengkap dengan Penyebab Bansos Gagal Cair
Info IHSG Anjlok ke Level 6.000, Investor Panik Massal Saat Bursa Asia Pesta Hijau
Info IHSG Anjlok Sendirian di Asia, Investor Panik Usai MSCI dan Kebijakan Ekspor Prabowo Bikin Pasar “Masuk Angin”
Harga Emas Hari Ini Kamis 21 Mei 2026: Antam, UBS, dan Galeri 24 Bergerak, Investor Mulai Berburu Logam Mulia
Isu Pembatasan Pertalite 1 Juni 2026 Bikin Heboh, Netizen Sudah Panik Duluan Sebelum Pemerintah Bicara
Dugaan Manipulasi Harga Ekspor CPO Terbongkar, Negara Diduga Cuma Kebagian “Ampas Sawit”
Info IHSG Hari Ini Hijau Tipis di Awal Pekan, Investor Diajak Bersyukur Meski Portofolio Masih “Diet Ketat”
Info IHSG Tumbang ke Zona Merah, Investor Lokal Kembali Diajak Latihan Mental Gratis
Info Harga Rupiah Tembus Rp17.855 per Dolar AS, Mata Uang RI Kini Jadi Samsak Ekonomi Global