Kamis, 4 Juni 2026

Dolar AS Nyaris Rp18.000, Kelas Menengah Diminta Puasa Belanja: Saat Keranjang Online Tak Lagi Bersahabat

Photo Author
Bhegin, Locusonline.co
- Minggu, 31 Mei 2026 | 14:05 WIB
Foto Ilustrasi (Generated by Gemini Ai)
Foto Ilustrasi (Generated by Gemini Ai)

JAKARTA – Ketika nilai tukar rupiah semakin tertekan dan dolar Amerika Serikat terus melaju mendekati level psikologis Rp18.000, kelompok masyarakat kelas menengah menghadapi tantangan baru. Bukan hanya harga barang impor yang berpotensi melonjak, biaya cicilan hingga kebutuhan rumah tangga juga diperkirakan ikut terdampak.

Per Sabtu (30/5/2026), kurs dolar AS tercatat berada di kisaran Rp17.881 per dolar AS. Sejumlah ekonom memperkirakan mata uang Negeri Paman Sam berpeluang menembus level Rp18.000 pada pekan mendatang apabila tekanan terhadap rupiah terus berlanjut.

Situasi tersebut menjadi alarm bagi rumah tangga Indonesia, khususnya kelas menengah yang selama ini berada di posisi unik: tidak cukup miskin untuk mendapat banyak bantuan, namun juga tidak cukup kaya untuk kebal terhadap gejolak ekonomi.

Ekonom Senior INDEF, Tauhid Ahmad, menjelaskan pelemahan rupiah akan langsung berdampak pada harga produk impor dan bahan baku yang berasal dari luar negeri.

Menurutnya, berbagai komoditas yang masih bergantung pada impor berpotensi mengalami kenaikan harga, mulai dari produk elektronik hingga bahan pangan tertentu.

"Misalnya produk elektronik, kemudian beberapa produk pangan seperti kedelai dan sebagainya, itu pasti ikut naik. Elektronik akan naik karena sebagian komponennya berasal dari impor. Produk-produk impor akan mengalami kenaikan harga dan memicu inflasi impor," ujar Tauhid.

Kondisi tersebut menciptakan ironi ekonomi modern. Saat promosi belanja daring semakin agresif menggoda masyarakat setiap hari, nilai tukar justru membuat harga barang yang diincar semakin sulit dijangkau.

Baca Juga: Pertamina Temukan 11 Miliar Barel “Minyak Bukan Kaleng-Kaleng”, Investor Masih Dicari, Fiskal Masih Dinego

Tekanan terhadap rupiah juga berdampak pada kebijakan moneter. Untuk menjaga stabilitas ekonomi dan nilai tukar, Bank Indonesia telah menaikkan suku bunga acuan hingga berada di level 5,25 persen.

Tauhid menilai konsekuensi dari kebijakan tersebut akan terasa pada sektor pembiayaan dan kredit masyarakat.

"Otomatis suku bunga akan semakin tinggi, terutama untuk pinjaman. Kredit rumah, kredit konsumtif, maupun kredit investasi akan menjadi lebih mahal," jelasnya.

Bagi masyarakat yang masih memiliki cicilan dengan skema bunga mengambang (floating rate), kenaikan suku bunga dapat membuat beban pembayaran bulanan ikut bertambah.

Tiga Kebiasaan yang Sebaiknya Dihindari Saat Dolar Menguat

Di tengah tekanan ekonomi akibat pelemahan rupiah, para ekonom mengingatkan kelas menengah agar lebih berhati-hati dalam mengelola keuangan.

1. Terlalu Agresif Membeli Barang Impor

Ketika dolar menguat, harga barang impor cenderung ikut naik. Oleh karena itu, masyarakat disarankan menunda pembelian produk yang tidak mendesak.

Halaman:

Editor: Bhegin

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X