JAKARTA – Ketika nilai tukar rupiah semakin tertekan dan dolar Amerika Serikat terus melaju mendekati level psikologis Rp18.000, kelompok masyarakat kelas menengah menghadapi tantangan baru. Bukan hanya harga barang impor yang berpotensi melonjak, biaya cicilan hingga kebutuhan rumah tangga juga diperkirakan ikut terdampak.
Per Sabtu (30/5/2026), kurs dolar AS tercatat berada di kisaran Rp17.881 per dolar AS. Sejumlah ekonom memperkirakan mata uang Negeri Paman Sam berpeluang menembus level Rp18.000 pada pekan mendatang apabila tekanan terhadap rupiah terus berlanjut.
Situasi tersebut menjadi alarm bagi rumah tangga Indonesia, khususnya kelas menengah yang selama ini berada di posisi unik: tidak cukup miskin untuk mendapat banyak bantuan, namun juga tidak cukup kaya untuk kebal terhadap gejolak ekonomi.
Ekonom Senior INDEF, Tauhid Ahmad, menjelaskan pelemahan rupiah akan langsung berdampak pada harga produk impor dan bahan baku yang berasal dari luar negeri.
Menurutnya, berbagai komoditas yang masih bergantung pada impor berpotensi mengalami kenaikan harga, mulai dari produk elektronik hingga bahan pangan tertentu.
"Misalnya produk elektronik, kemudian beberapa produk pangan seperti kedelai dan sebagainya, itu pasti ikut naik. Elektronik akan naik karena sebagian komponennya berasal dari impor. Produk-produk impor akan mengalami kenaikan harga dan memicu inflasi impor," ujar Tauhid.
Kondisi tersebut menciptakan ironi ekonomi modern. Saat promosi belanja daring semakin agresif menggoda masyarakat setiap hari, nilai tukar justru membuat harga barang yang diincar semakin sulit dijangkau.
Baca Juga: Pertamina Temukan 11 Miliar Barel “Minyak Bukan Kaleng-Kaleng”, Investor Masih Dicari, Fiskal Masih Dinego
Tekanan terhadap rupiah juga berdampak pada kebijakan moneter. Untuk menjaga stabilitas ekonomi dan nilai tukar, Bank Indonesia telah menaikkan suku bunga acuan hingga berada di level 5,25 persen.
Tauhid menilai konsekuensi dari kebijakan tersebut akan terasa pada sektor pembiayaan dan kredit masyarakat.
"Otomatis suku bunga akan semakin tinggi, terutama untuk pinjaman. Kredit rumah, kredit konsumtif, maupun kredit investasi akan menjadi lebih mahal," jelasnya.
Bagi masyarakat yang masih memiliki cicilan dengan skema bunga mengambang (floating rate), kenaikan suku bunga dapat membuat beban pembayaran bulanan ikut bertambah.
Tiga Kebiasaan yang Sebaiknya Dihindari Saat Dolar Menguat
Di tengah tekanan ekonomi akibat pelemahan rupiah, para ekonom mengingatkan kelas menengah agar lebih berhati-hati dalam mengelola keuangan.
1. Terlalu Agresif Membeli Barang Impor
Ketika dolar menguat, harga barang impor cenderung ikut naik. Oleh karena itu, masyarakat disarankan menunda pembelian produk yang tidak mendesak.
Artikel Terkait
Info Harga Rupiah Tembus Rp17.855 per Dolar AS, Mata Uang RI Kini Jadi Samsak Ekonomi Global
Skandal Ekspor CPO: Sawit RI Diduga “Disulap” Murah di Singapura, Negara Cuma Bisa Geleng-Geleng Faktur
Info IHSG Hari Ini Sempat Nyungsep lalu Bangkit Lagi, Investor Masih Bingung Antara Cuan atau Cemas
Harga Rupiah Hari Ini Tembus Rp 17.900 per Dollar AS, Netizen Mulai Menghafal Kurs Seperti Harga Cabai
Dewan Bisnis Indonesia-Prancis Resmi Dibentuk, Prabowo dan Macron Satukan Investor dalam Meja yang Lebih Besar dari Sekadar Diplomasi
Tarif Pajak UMKM 0,5% Dipersempit, CV dan PT Kini Diajak “Naik Kelas” ke Jalur Pajak Reguler
Info IHSG Hari ini Melemah dan Investor Asing Angkat Kaki, Saham Perbankan Jadi Korban Utama Aksi Jual Akhir Pekan
Kopi Garut Dilirik Jepang, Tapi Petani Diingatkan: Aroma Floral Saja Belum Cukup untuk Menembus Pasar Premium
KA Cikuray Makin Diminati, Tiket Rp45 Ribu Berhasil Menyatukan Garut, Bandung dan Jakarta dalam Satu Gerbong Harapan
Info Harga Rupiah Hari Menuju Rp18.000? Ketika Dompet Rakyat Dipaksa Menonton Dolar Semakin Perkasa