[Locusonline.co] BANDUNG – Tekanan inflasi di Jawa Barat diprediksi akan mencapai puncaknya pada Maret 2026 dan berpotensi bertahan hingga satu bulan setelah Idul Fitri. Pengamat Ekonomi Universitas Pasundan Bandung, Acuviarta Kartabi, mengingatkan pemerintah provinsi untuk tidak lengah menghadapi situasi ini.
"Jika lengah, kenaikan inflasi bisa sampai 1 persen di bulan Maret. Situasi ini bisa bertahan sampai satu bulan selepas Hari Raya Idul Fitri," kata dia di Bandung, Rabu (4/3/2026).
Menurutnya, indikator utama keberhasilan atau kegagalan pengendalian inflasi di Jawa Barat terletak pada stabilitas harga beras. Ia menyoroti fakta bahwa harga beras terus merangkak naik meskipun di tengah klaim swasembada pangan.
Data Inflasi Terkini: Lonjakan Signifikan di Februari
Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Barat mencatat inflasi year-on-year (yoy) pada Februari 2026 mencapai 4,71 persen . Angka ini melonjak tajam dibandingkan inflasi Januari 2026 yang sebesar 3,24 persen, dan berbanding terbalik dengan kondisi Februari 2025 yang justru mengalami deflasi 0,27 persen .
| Periode | Inflasi yoy |
|---|---|
| Februari 2025 | -0,27% (deflasi) |
| Januari 2026 | 3,24% |
| Februari 2026 | 4,71% |
Kepala BPS Provinsi Jawa Barat, Margaretha Ari Anggorowati, menjelaskan bahwa tingginya inflasi yoy ini dipengaruhi oleh low base effect dari diskon tarif listrik yang terjadi pada Februari 2025. Saat itu, diskon listrik 50 persen berlaku bagi pelanggan pra-bayar maupun pasca-bayar .
"Namun jika pengaruh listrik ini dikeluarkan dari perhitungan, inflasi year on year Februari 2026 hanya 2,65 persen," kata Ari.
Secara bulanan (month-to-month/mtm), Jawa Barat mengalami inflasi 0,81 persen pada Februari 2026. Februari merupakan awal bulan Ramadan, yang secara tradisional mendorong kenaikan harga sejumlah komoditas bahan pokok, setelah bulan sebelumnya masih mengalami deflasi .