[Locusonline.co] Jakarta – Kabar menggembirakan datang dari sektor industri pengolahan Indonesia yang secara keseluruhan mencatatkan pertumbuhan impresif sebesar 5,30% pada tahun 2025. Namun, di balik angka tersebut, tersimpan duka mendalam bagi puluhan ribu pekerja di sektor padat karya. Lembaga riset NEXT Indonesia Center memperingatkan bahwa ketimpangan antar subsektor semakin lebar, mengancam hilangnya jutaan lapangan kerja.
Direktur Eksekutif NEXT Indonesia Center, Christiantoko, dalam siaran pers di Jakarta, Minggu (29/3/2026), menyebutkan bahwa meskipun ada "sunrise industry" yang tumbuh pesat, sektor-sektor lama seperti tekstil, pakaian jadi, kayu, serta karet dan plastik justru tertatih-tatih menuju fase "sunset industry" .
"Sektor-sektor sunset ini membutuhkan perhatian khusus karena mereka adalah penyerap tenaga kerja besar. Perannya mulai tergerus oleh perubahan rantai pasok global dan persaingan biaya produksi," ujar Christiantoko.
2 Sisi Mata Uang: Tumbuh Tapi Tak Merata
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), industri pengolahan memang menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi nasional yang mencapai 5,11% di tahun 2025. Industri logam dasar menjadi primadona dengan pertumbuhan mencapai 15,71%, sementara industri mesin dan perlengkapan mencatat pertumbuhan 13,98% .
Namun, kabar buruk datang dari subsektor yang selama ini menjadi tulang punggung penyerapan tenaga kerja kelas menengah ke bawah.
| Subsektor | Kondisi 2025 |
|---|---|
| Industri Karet & Plastik | Kontraksi 4,07% |
| Tekstil & Pakaian Jadi | Tekanan berat, PHK massal |
| Industri Kayu | Tertinggal |
Kontribusi sektor manufaktur terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) pun terus merosot. Jika pada era 1980-1990-an kontribusinya mencapai 32%, kini hanya berkisar 18%-19%, atau level terendah sejak 1990-an .
Gelombang PHK dan Keruntuhan Raksasa Tekstil
Dampak dari kondisi ini sudah terasa nyata di lapangan. Sepanjang tahun 2025, gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) melanda sektor manufaktur. Data Kementerian Ketenagakerjaan mencatat, sektor manufaktur menyumbang 22.671 kasus PHK .