ekonomi

Ekonomi Indonesia Ditopang Sektor Pertanian: Saat Cabai Tak Mengamuk, Inflasi Pun Mendadak Santun

Senin, 11 Mei 2026 | 14:00 WIB
Gambar Ilustrasi (Generated by Gemini AI)

LOCUSonline, JAKARTA - Di tengah ekonomi global yang sibuk bikin kepala negara pusing tujuh keliling, Indonesia ternyata masih punya pahlawan tanpa jas, mereka itu sawah, petani dan stok cabai yang tidak ngamuk. Pakar ekonomi pertanian dari Universitas Indonesia, Ninasapti Triaswati, menilai sektor pertanian masih menjadi bantalan penting ekonomi nasional, sekaligus penjaga suasana hati rakyat saat harga bahan pokok mulai menggoda emosi.

Menurut Ninasapti, sektor pertanian bukan cuma urusan cangkul dan lumpur sawah. Di Indonesia, pertanian adalah mesin penyangga ekonomi sekaligus penyerap tenaga kerja raksasa yang diam-diam menjaga dapur jutaan keluarga tetap berasap.

Ia mengingatkan pemerintah agar tidak terlena dengan angka pertumbuhan ekonomi semata, sebab stabilitas pangan hingga akhir 2026 akan menjadi faktor penentu apakah ekonomi tetap tenang atau justru berubah jadi arena panik massal di pasar tradisional.

"Pasokan pangan dan produksi, khususnya beras, sangat memengaruhi stabilitas ekonomi. Karena itu konsistensinya perlu dijaga," ujar Ninasapti, Senin (11/5/2026).

Baca Juga: Holding Ultra Mikro BRI Cetak 1,2 Juta Debitur Naik Kelas, Warung Kecil Mulai Belajar Jadi Sultan Ekonomi Kerakyatan

Pernyataan itu terasa masuk akal. Sebab di negeri yang hubungan emosional rakyatnya dengan nasi hampir setara hubungan dengan mantan, gangguan pasokan beras bisa lebih menegangkan dibanding kenaikan harga saham.

Data Badan Pusat Statistik menunjukkan inflasi April 2026 tercatat hanya 0,13 persen secara bulanan. Menariknya, kelompok makanan, minuman, dan tembakau justru menyumbang deflasi sebesar 0,06 persen. Artinya, beberapa harga bahan pangan mulai lebih bersahabat dan tidak lagi membuat dompet menjerit tiap masuk pasar.

Penurunan harga daging ayam ras, telur ayam ras, dan cabai menjadi salah satu penyebab utama meredanya tekanan harga pangan. Situasi ini dianggap sebagai sinyal bahwa stok pangan nasional masih cukup aman di tengah ketidakpastian ekonomi dunia.

Dalam bahasa sederhananya rakyat masih bisa beli telur tanpa perlu rapat keluarga terlebih dahulu.

Baca Juga: Terkena Imbas SE Gubernur Jabar, Apersi Garut Berharap Moratorium Perizinan Perumahan Segera Dicabut

Ninasapti menilai kestabilan pasokan pangan domestik menjadi kunci utama menjaga daya beli masyarakat. Sebab ketika harga kebutuhan pokok melonjak, yang pertama kali goyah bukan hanya ekonomi rumah tangga, tetapi juga tingkat kesabaran publik.

"Pasokan beras dan produksi pangan sangat mempengaruhi stabilitas. Ini harus dijaga dengan baik," katanya lagi.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia sendiri pada triwulan I 2026 tercatat mencapai 5,61 persen secara tahunan atau year on year (yoy). Pada periode sebelumnya, sektor pertanian juga sempat menjadi salah satu penyumbang utama pertumbuhan ekonomi nasional dengan kontribusi mencapai 1,11 persen.

Ironisnya, sektor yang sering dianggap kelas pinggiran justru berkali-kali menjadi penyelamat ekonomi saat sektor lain sibuk tersandung gejolak global. Ketika industri melambat dan pasar keuangan gelisah, sawah tetap bekerja tanpa banyak konferensi pers.

Karena itu, pengamat menilai menjaga pertanian bukan lagi sekadar urusan pangan, melainkan strategi menjaga stabilitas nasional. Sebab di Indonesia, inflasi kadang tidak ditentukan pidato pejabat, melainkan harga cabai di warung sayur.*****

Terkini