Kalimat itu terdengar sederhana, namun cukup revolusioner di zaman ketika unfollow media sosial lebih sering terjadi karena beda pilihan politik dibanding beda selera musik.
Din juga mengingatkan bahwa para ulama dan tokoh bangsa terdahulu telah berkorban untuk mendirikan Indonesia. Karena itu, generasi sekarang seharusnya melanjutkan perjuangan tersebut dengan kontribusi nyata, bukan sekadar aktif membuat thread panjang penuh kemarahan di media sosial.
Ia mengajak umat Islam mengambil peran lebih besar dalam memajukan bangsa dan membebaskan Indonesia dari berbagai bentuk kemungkaran sosial, politik, dan ekonomi.
"Ini saatnya umat Islam menampilkan pengorbanan bagi kemajuan bangsa dan negara," tegasnya.
Di tengah suasana politik yang sering membuat perbedaan kecil terasa seperti perang dunia mini, khutbah Din Syamsuddin menjadi pengingat bahwa persatuan umat rupanya masih jauh lebih sulit diwujudkan dibanding menyatukan keluarga besar saat pembagian daging kurban.*****