LOCUSonline, GARAUT - Setelah sempat ditinggal tanpa nahkoda akibat takdir dan keputusan pribadi, dua desa di Kabupaten Garut akhirnya kembali memiliki pemimpin resmi.
Dua sosok yang kini resmi memegang kendali adalah Ade Hermawan sebagai Kepala Desa Cinunuk, Kecamatan Wanaraja, serta Engkus Kusdinar sebagai Kepala Desa Mekarsari, Kecamatan Cilawu. Keduanya menggantikan pejabat sebelumnya yang tidak menuntaskan masa jabatan satu karena wafat, satu lagi memilih mundur, meninggalkan kursi yang tak bisa terlalu lama kosong tanpa arah.
Dalam sambutannya, Bupati Garut mengingatkan bahwa jabatan kepala desa hari ini bukan lagi sekadar jabatan administratif dengan stempel, melainkan posisi strategis yang menuntut kreativitas, ketahanan mental, dan kemampuan membaca situasi yang terus berubah.
"Desa sekarang bukan tempat santai-santai. Dinamika makin kompleks, jadi kepala desa harus inovatif dan mampu menggerakkan masyarakat," ujarnya, memberi sinyal bahwa era kepala desa pasif tampaknya sudah tidak relevan.
Ia juga menegaskan bahwa posisi kepala desa adalah amanah publik, bukan sekadar gelar yang bisa dipajang di papan nama kantor. Tugas utamanya, kata dia, adalah memastikan pelayanan berjalan dan masyarakat merasakan dampak nyata dari kepemimpinan.
Lebih jauh, Syakur menekankan bahwa pembangunan daerah sejatinya dimulai dari desa. Artinya, jika desa bergerak, daerah ikut melaju. Sebaliknya, jika desa stagnan, mimpi pembangunan hanya akan berhenti di dokumen perencanaan.
Tak hanya soal birokrasi, ia juga menyinggung faktor yang sering dianggap tidak masuk struktur organisasi namun krusial yaitu keluarga. Menurutnya, dukungan keluarga menjadi fondasi penting dalam menjaga integritas dan semangat kepala desa di tengah tekanan jabatan.
Menutup arahannya, Bupati mengingatkan realitas klasik pascapemilihan yaitu perbedaan pilihan. Ia meminta para kepala desa baru segera merangkul seluruh elemen masyarakat dan mengakhiri fragmentasi yang muncul selama proses demokrasi.
"Kalau kontestasi sudah selesai, jangan bawa rivalitas ke meja kerja. Saatnya bersatu dan bekerja," tegasnya.
Pelantikan ini bukan sekadar seremoni pengisian jabatan, melainkan titik awal bagi dua desa untuk kembali berjalan dengan arah yang jelas. Di tengah ekspektasi masyarakat yang semakin tinggi, para kepala desa baru kini dihadapkan pada satu ujian utama untuk membuktikan bahwa jabatan bukan hanya tentang dilantik, tetapi tentang bekerja.*****
Artikel Terkait
Kurikulum Nonformal 2026 Disosialisasikan di Kobar: Saat PKBM Diminta Fleksibel di Tengah Realita yang Tak Selalu Fleksibel
Drainase Sempit Picu Banjir di Malangbong Garut, Akses Jalan Mulai Rusak Parah
Gebyar Pesona Budaya Garut 2026 Masuk KEN: Dari Karnaval Sejarah hingga Perputaran Uang Receh yang Dianggap “Ekonomi Kreatif”