Kamis, 4 Juni 2026

Harga Plastik Naik, Warga Garut Kembali ke “Teknologi Leluhur” Pakai Besek untuk Daging Kurban

Photo Author
Bhegin, Locusonline.co
- Kamis, 28 Mei 2026 | 11:05 WIB
Foto Ilustrasi (Generated by Gemini AI)
Foto Ilustrasi (Generated by Gemini AI)

LOCUSonline, GARUT - Di Kampung Cijago, Desa Kadongdong, Kecamatan Banjarwangi, warga memanfaatkan besek bambu dan daun pisang untuk membungkus daging kurban pada momen Idul Adha 2026. Sebuah langkah yang tanpa seminar lingkungan, tanpa jargon green economy, justru berhasil membuat plastik tersingkir secara alami.

Warga mengaku penggunaan besek bukan sekadar nostalgia era 90-an, melainkan solusi realistis di tengah mahalnya harga kantong plastik. Selain lebih hemat, bahan seperti bambu dan daun pisang juga mudah ditemukan di kampung.

"Yang pasti menghemat, karena plastik sedang mahal. Kalau di kampung banyak bahan, daun pisang juga gampang dicari," ujar Idan Nugraha, panitia kurban setempat, Rabu (27/5/2026).

Menurutnya, besek yang digunakan juga bisa dimanfaatkan kembali oleh penerima daging kurban untuk kebutuhan rumah tangga lain. Sementara daun pisang dinilai jauh lebih ramah lingkungan karena mudah terurai dan tidak berubah menjadi warisan abadi di sungai.

Baca Juga: Bupati Garut Kunjungi PLTP Kamojang: Saat Kota Panas Bumi Tak Lagi Identik dengan Drama Politik, Tapi Energi Hijau

Fenomena ini seolah menjadi sindiran halus bagi kehidupan modern yang terlalu bergantung pada plastik sekali pakai. Ketika kota sibuk menggelar kampanye pengurangan sampah dengan baliho berbahan vinyl, warga kampung justru diam-diam sudah lebih dulu menjalankan praktik minim sampah secara nyata.

Bagi masyarakat setempat, penggunaan besek dan daun pisang bukan sesuatu yang aneh. Sebaliknya, kemasan tradisional tersebut dianggap lebih etis dan lebih pantas saat membagikan daging kurban kepada warga.

Selain mengurangi biaya, langkah ini juga diharapkan dapat menekan kebiasaan membuang sampah plastik sembarangan ke sungai yang selama ini menjadi masalah lingkungan di sejumlah daerah.

Di tengah mahalnya harga kebutuhan dan meningkatnya kesadaran lingkungan, warga pelosok Garut justru membuktikan bahwa solusi kadang tidak selalu datang dari teknologi canggih. Kadang jawabannya sudah lama ada di dapur nenek moyang.*****

Editor: Bhegin

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X