berita-daerah

Program Gebrak Bambu di Garut, Saat Desa Didorong Mendunia, dari Anyaman ke Ambisi Pasar Global

Selasa, 28 April 2026 | 14:00 WIB
Gambar Ilustrasi

LOCUSonline, GARUT - Di tengah semangat besar membangun dari desa, pemerintah tampaknya menemukan satu bahan baku yang tak hanya lentur, tetapi juga penuh harapan dari bambu. Melalui Kementerian Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat, Kecamatan Selaawi, Kabupaten Garut, kini resmi didorong menjadi kawasan perdesaan prioritas dengan komoditas unggulan yang selama ini lebih akrab sebagai pagar rumah, namun kini diproyeksikan menembus pasar dunia.

Langkah ini selaras dengan arah Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029 yang mengusung jargon membangun dari desa dan dari bawah sebuah frasa yang terdengar sederhana, namun selalu menuntut pembuktian di lapangan.

Sebagai bentuk implementasi, pemerintah meluncurkan program bertajuk Gebrak Bambu (Gerakan Bersama Akselerasi Bangun Masyarakat Berdaya dan Unggul), yang digelar pada 27–29 April 2026 di Aula Kecamatan Selaawi. Sebanyak 38 peserta, terdiri dari perajin bambu dari tujuh desa serta perwakilan BUMDesma, dilibatkan dalam pelatihan diversifikasi produk.

Jika selama ini bambu identik dengan kerajinan tradisional, program ini mencoba menggeser narasi dari sekadar anyaman menjadi komoditas bernilai industri.

Deputi Bidang Koordinasi Pemberdayaan Masyarakat Desa, Daerah Tertinggal, dan Daerah Tertentu, Abdul Haris, menyebut bambu sebagai komoditas strategis yang punya masa depan cerah di pasar global.

Baca Juga: Gebyar Pesona Budaya Garut 2026 Masuk KEN: Dari Karnaval Sejarah hingga Perputaran Uang Receh yang Dianggap “Ekonomi Kreatif”

Ia memaparkan, nilai pasar bambu dunia pada 2025 diperkirakan mencapai 79,36 miliar dolar AS dan diproyeksikan melonjak hingga 115,3 miliar dolar AS pada 2030. Sayangnya, kontribusi Indonesia dalam industri ini masih sekitar 1 persen sebuah angka yang terdengar kecil untuk negara yang bambunya tumbuh tanpa perlu banyak diminta.

"Potensi kita besar, tapi kontribusinya masih kecil. Ini yang ingin kita dorong," ujarnya.

Melalui pelatihan ini, pemerintah menargetkan lahirnya produk bambu yang lebih beragam, proses produksi yang lebih efisien, serta standar kualitas yang mampu bersaing di pasar yang lebih luas. Tidak berhenti di situ, model usaha berbasis bambu juga diarahkan agar berkelanjutan tidak hanya ramai saat program berlangsung, lalu kembali sunyi setelahnya.

Program seperti Gebrak Bambu membawa harapan bahwa desa tidak lagi hanya menjadi penonton dalam ekonomi nasional. Namun seperti banyak program pemberdayaan lainnya, tantangan sesungguhnya bukan pada pelatihan, melainkan pada konsistensi setelah pelatihan selesai.

Apakah bambu Selaawi benar-benar akan menembus pasar global, atau hanya berhenti sebagai cerita sukses di laporan kegiatan?

Yang jelas, untuk saat ini, bambu kembali mendapat panggungnya, bukan hanya sebagai simbol kesederhanaan desa, tetapi sebagai komoditas yang diharapkan mampu mengangkat ekonomi masyarakat dari akar rumput.*****

Tags

Terkini