LOCUSonline, GARUT - Kabupaten Garut kembali menghadapi prestasi musiman yang sayangnya bukan soal panen atau pariwisata. Hingga Mei 2026, kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) tercatat menembus angka 733 kasus. Empat warga meninggal dunia, sementara rumah sakit mulai kembali akrab dengan pasien yang tubuhnya diserbu nyamuk bersertifikat Aedes aegypti.
Dinas Kesehatan Kabupaten Garut menyebut cuaca yang tidak menentu menjadi salah satu biang kerok meningkatnya kasus DBD. Kadang hujan, kadang panas, sementara genangan air tetap setia menemani kehidupan sehari-hari warga.
Sekretaris Dinas Kesehatan Garut, Yodi Sirojudin, mengatakan perubahan cuaca yang ekstrem membuat populasi nyamuk berkembang lebih cepat dibanding kesadaran masyarakat menjaga lingkungan.
"Kasus DBD meningkat sejak Januari sampai Mei 2026. Faktor cuaca dan kurangnya perhatian terhadap kebersihan lingkungan menjadi penyebab utama," ujarnya, Rabu (27/5/2026).
Baca Juga: Bhegin Syah Kenalkan Teh Telang yang Syarat Manfaat Untuk Kesehatan, Warnanya Biru Rasa Segar
Di tengah serangan nyamuk yang tampaknya makin disiplin bekerja, petugas kesehatan terus melakukan edukasi kepada masyarakat. Program fogging digelar di sejumlah wilayah endemik, sementara pemeriksaan jentik nyamuk dilakukan dari rumah ke rumah, termasuk mengintip bak mandi yang kadang lebih terawat daripada halaman rumah.
Pemerintah juga kembali menggaungkan jurus legendaris 3M, menguras, menutup dan mengubur. Sebuah mantra kesehatan yang setiap tahun diulang, namun sering kalah populer dibanding tren media sosial dan diskon belanja online.
"Kami terus mengingatkan masyarakat untuk rutin membersihkan lingkungan dan menjalankan pola hidup bersih dan sehat. Nyamuk tidak memilih korban berdasarkan usia," kata Yodi.
Data kasus DBD tersebut berasal dari laporan puskesmas dan rumah sakit di berbagai kecamatan di Garut. Dinas Kesehatan juga mendorong program Gerakan Satu Rumah Satu Jumantik (G1R1J), agar warga tidak hanya sibuk memantau status WhatsApp tetangga, tetapi juga memeriksa jentik di sekitar rumah sendiri.
Menurut Yodi, pemberantasan sarang nyamuk bukan hanya urusan petugas kesehatan. Drainase mampet, sampah menumpuk, dan halaman rumah yang berubah jadi kolam mini juga menjadi surga bagi nyamuk berkembang biak.
"Kami berharap masyarakat lebih peduli terhadap lingkungan. Jangan sampai jentik nyamuk tumbuh dewasa lebih sukses dibanding program pencegahan yang sudah dijalankan," ujarnya.
Pemerintah daerah berharap peningkatan kewaspadaan masyarakat dapat menekan lonjakan kasus DBD dalam beberapa bulan ke depan. Sebab jika nyamuk terus menang, bukan tidak mungkin fogging akan berubah dari solusi darurat menjadi agenda rutin tahunan yang ditunggu-tunggu seperti konser musik keliling.*****