Kamis, 4 Juni 2026

Ekonomi RI Tumbuh 5,61 Persen, China Diam-Diam Jadi Penopang Nafas Saat Modal Asing Lain Angkat Koper

Photo Author
Bhegin, Locusonline.co
- Kamis, 7 Mei 2026 | 18:55 WIB
Gambar Ilustrasi (Generated by Gemini Ai)
Gambar Ilustrasi (Generated by Gemini Ai)

Tak berhenti di sektor investasi dan perdagangan, China kini juga mulai masuk ke ruang pembiayaan negara.

Pemerintah Indonesia tercatat mulai aktif menerbitkan obligasi yuan atau dim sum bond demi mencari sumber utang yang lebih murah. Strategi ini dianggap menarik karena bunga obligasi yuan relatif lebih rendah dibanding obligasi global lainnya.

Masalahnya, utang murah kadang mirip promo belanja daring: terlihat menguntungkan di awal, tetapi tagihannya bisa membuat pusing belakangan.

BCA mengingatkan risiko currency mismatch atau ketidaksesuaian mata uang. Pemerintah memiliki kewajiban membayar dalam yuan, sementara sebagian besar penerimaan negara masih berbasis rupiah dan dolar AS.

Jika rupiah melemah terhadap yuan, maka biaya pembayaran utang otomatis ikut membengkak.

Baca Juga: Terkena Imbas SE Gubernur Jabar, Apersi Garut Berharap Moratorium Perizinan Perumahan Segera Dicabut

Situasi makin rumit karena ketergantungan impor Indonesia terhadap China terus meningkat. Pangsa impor Indonesia dari China naik menjadi 37,8 persen pada Maret 2026, jauh lebih tinggi dibanding 28,1 persen pada 2019.

Artinya, ekonomi Indonesia makin akrab dengan yuan, meski sebagian besar ekspor komoditas nasional masih dibayar menggunakan dolar AS.

Di balik pesta pertumbuhan ekonomi itu, BCA juga menyoroti ancaman pada neraca berjalan Indonesia. Konsumsi dan investasi memang naik, tetapi kebutuhan impor meningkat lebih cepat dibanding ekspor.

Ekspor Indonesia hanya tumbuh 0,9 persen, sementara impor melonjak 7,18 persen. Sebagian kenaikan impor berasal dari kebutuhan pembangunan koperasi Merah Putih hingga pengadaan pangan dan peralatan pendukung program pemerintah.

Situasi itu menunjukkan satu kenyataan sederhana, ekonomi Indonesia memang tumbuh, tetapi sebagian pertumbuhannya masih ditopang barang dari luar negeri.

Maka lahirlah ironi khas ekonomi modern Indonesia: rakyat diminta bangga karena pertumbuhan tinggi, sementara mesin pertumbuhannya justru makin bergantung pada investasi, barang, dan pembiayaan dari negeri Tirai Bambu.

Untuk saat ini, angka 5,61 persen memang terlihat manis. Tetapi pertanyaan jangka panjangnya tetap sama, apakah Indonesia sedang memperkuat kemandirian ekonomi, atau sekadar tumbuh nyaman sebagai pasar besar yang makin tergantung pada China?*****

Halaman:

Editor: Bhegin

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X