"Jika Jepang butuh kopi berkualitas tinggi, maka petani harus mendapat pendampingan langsung, bukan hanya melalui program umum. Selama ini tantangan terbesar kami adalah stabilitas hasil panen dan biaya produksi," ujarnya.
Ia juga menyoroti kenyataan bahwa reputasi kopi Garut yang terus naik di pasar internasional belum selalu berbanding lurus dengan kesejahteraan petani.
"Kami bangga kopi Garut dilirik Jepang, tapi kalau tidak ada kebijakan harga minimum atau model kontrak yang jelas, petani tetap akan berada di posisi paling lemah," katanya.
Bupati Syakur menegaskan bahwa pemerintah daerah ingin memastikan manfaat ekonomi dari ekspor kopi tidak hanya dinikmati pelaku usaha besar atau eksportir.
"Kopi Garut semakin diperhatikan di luar negeri. Yang sedang kita rumuskan adalah bagaimana nilai tambah itu tidak berhenti di tingkat eksportir saja, melainkan sampai ke petani," tegasnya.
Fenomena ini menjadi gambaran bahwa jalan menuju pasar Jepang tidak hanya ditentukan oleh harum aroma kopi. Negeri Sakura tampaknya ingin memastikan setiap biji kopi memiliki riwayat yang jelas, proses yang rapi, dan kualitas yang konsisten.
Dengan kata lain, kopi Garut sudah berhasil membuat Jepang menoleh. Tantangan berikutnya adalah memastikan mereka tidak sekadar menoleh, tetapi benar-benar membeli dan kembali memesan.*****
Artikel Terkait
Isu Pembatasan Pertalite 1 Juni 2026 Bikin Heboh, Netizen Sudah Panik Duluan Sebelum Pemerintah Bicara
Dugaan Manipulasi Harga Ekspor CPO Terbongkar, Negara Diduga Cuma Kebagian “Ampas Sawit”
Info IHSG Hari Ini Hijau Tipis di Awal Pekan, Investor Diajak Bersyukur Meski Portofolio Masih “Diet Ketat”
Info IHSG Tumbang ke Zona Merah, Investor Lokal Kembali Diajak Latihan Mental Gratis
Info Harga Rupiah Tembus Rp17.855 per Dolar AS, Mata Uang RI Kini Jadi Samsak Ekonomi Global
Skandal Ekspor CPO: Sawit RI Diduga “Disulap” Murah di Singapura, Negara Cuma Bisa Geleng-Geleng Faktur
Info IHSG Hari Ini Sempat Nyungsep lalu Bangkit Lagi, Investor Masih Bingung Antara Cuan atau Cemas
Harga Rupiah Hari Ini Tembus Rp 17.900 per Dollar AS, Netizen Mulai Menghafal Kurs Seperti Harga Cabai
Dewan Bisnis Indonesia-Prancis Resmi Dibentuk, Prabowo dan Macron Satukan Investor dalam Meja yang Lebih Besar dari Sekadar Diplomasi
Tarif Pajak UMKM 0,5% Dipersempit, CV dan PT Kini Diajak “Naik Kelas” ke Jalur Pajak Reguler