"Ketika mata uang melemah, harga-harga akan mengalami kenaikan yang cukup signifikan. Pada akhirnya masyarakat yang harus menanggung beban itu," katanya.
Baca Juga: Info IHSG Tumbang ke Zona Merah, Investor Lokal Kembali Diajak Latihan Mental Gratis
Pandangan serupa disampaikan Direktur Eksekutif CELIOS, Bhima Yudhistira.
Bhima menilai jika dolar benar-benar menembus Rp18.000, tekanan terhadap ekonomi domestik akan semakin besar, terutama melalui kenaikan biaya impor dan produksi.
"Yang jelas, transmisi kenaikan biaya bahan baku dan biaya produksi ke harga-harga ritel akan berlangsung lebih cepat," kata Bhima.
Ia menjelaskan bahwa selama ini pelaku usaha masih berusaha menahan kenaikan harga demi menjaga daya beli konsumen. Namun ketika pelemahan rupiah semakin dalam, ruang untuk menahan harga akan semakin sempit.
"Kalau sebelumnya ada jeda dua sampai tiga bulan sebelum harga naik, sekarang pelaku usaha bisa lebih cepat mengganti daftar harga karena tekanan biaya sudah terlalu besar," ujarnya.
Menurut Bhima, kondisi ini berpotensi memicu inflasi impor (imported inflation), yakni kenaikan harga barang yang dipicu mahalnya biaya impor.
Selain kenaikan harga, Bhima mengingatkan adanya risiko perlambatan aktivitas industri, terutama sektor yang sangat bergantung pada bahan baku impor.
Jika tekanan berlangsung lama, sejumlah perusahaan dapat mengambil langkah efisiensi, termasuk pengurangan tenaga kerja.
Secara satir, pekerja berpotensi menghadapi situasi yang tidak nyaman dimana harga kebutuhan naik lebih cepat daripada gaji, sementara ancaman pengurangan pekerjaan ikut menghantui.
"Kelompok menengah ke bawah hampir dipastikan menjadi pihak yang paling dirugikan. Banyak yang sudah hidup dalam kondisi bertahan dan tidak memiliki bantalan keuangan yang cukup jika situasi memburuk," kata Bhima.
Ia menambahkan bahwa pelemahan rupiah yang berlarut-larut berpotensi meningkatkan angka kemiskinan, pengangguran, serta memperbesar kerentanan ekonomi rumah tangga.
"Kalau dolar menyentuh Rp18.000, risiko kenaikan kemiskinan dan pengangguran akan semakin besar. Dampaknya paling terasa bagi kelompok masyarakat yang daya tahannya memang sudah terbatas," tegasnya.
Para analis menilai level Rp18.000 bukan hanya sekadar angka simbolis di papan kurs. Angka tersebut menjadi indikator psikologis yang dapat memengaruhi kepercayaan pasar, perilaku investasi, hingga keputusan konsumsi masyarakat.
Artikel Terkait
Isu Pembatasan Pertalite 1 Juni 2026 Bikin Heboh, Netizen Sudah Panik Duluan Sebelum Pemerintah Bicara
Dugaan Manipulasi Harga Ekspor CPO Terbongkar, Negara Diduga Cuma Kebagian “Ampas Sawit”
Info IHSG Hari Ini Hijau Tipis di Awal Pekan, Investor Diajak Bersyukur Meski Portofolio Masih “Diet Ketat”
Info IHSG Tumbang ke Zona Merah, Investor Lokal Kembali Diajak Latihan Mental Gratis
Info Harga Rupiah Tembus Rp17.855 per Dolar AS, Mata Uang RI Kini Jadi Samsak Ekonomi Global
Skandal Ekspor CPO: Sawit RI Diduga “Disulap” Murah di Singapura, Negara Cuma Bisa Geleng-Geleng Faktur
Info IHSG Hari Ini Sempat Nyungsep lalu Bangkit Lagi, Investor Masih Bingung Antara Cuan atau Cemas
Harga Rupiah Hari Ini Tembus Rp 17.900 per Dollar AS, Netizen Mulai Menghafal Kurs Seperti Harga Cabai
Dewan Bisnis Indonesia-Prancis Resmi Dibentuk, Prabowo dan Macron Satukan Investor dalam Meja yang Lebih Besar dari Sekadar Diplomasi
Tarif Pajak UMKM 0,5% Dipersempit, CV dan PT Kini Diajak “Naik Kelas” ke Jalur Pajak Reguler