ekonomi

Konflik Israel–Iran Picu Kenaikan Harga Emas dan Minyak, Rupiah Berpotensi Melemah ke Rp17.000

Minggu, 1 Maret 2026 | 06:06 WIB


[Locusonline.co] JAKARTA – Eskalasi konflik di Timur Tengah, khususnya ketegangan antara Israel dan Iran yang mencapai titik kulminasi baru, mengguncang pasar keuangan global. Investor berbondong-bondong meninggalkan aset berisiko dan memburu instrumen safe haven, memicu lonjakan harga emas dan minyak mentah dunia, serta memberikan tekanan signifikan terhadap nilai tukar rupiah.





Pada Sabtu (28/2/2026), harga emas dunia ditutup di level US$ 5.280 per troy ounce, sementara harga emas batangan di dalam negeri menembus Rp 3.085.000 per gram. Para analis memprediksi tren ini masih akan berlanjut seiring meningkatnya ketegangan geopolitik.





Emas dan Minyak Melonjak, Konflik Buka Babak Baru





Pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menilai kegagalan pertemuan delegasi Amerika Serikat dan Iran di Jenewa, Swiss, serta serangan balasan antara Israel dan Iran, telah membuka babak baru konflik di Timur Tengah.






"Ini bisa menjadi babak baru konflik di Timur Tengah pada Maret 2026. Dampaknya, kemungkinan besar harga emas naik, logam mulia naik, rupiah melemah. Kemudian kalau harga minyak mentah naik, nah ini akan berdampak terhadap turunannya," ujar Ibrahim.






Menurutnya, dalam situasi risk-off seperti saat ini, investor global cenderung menghindari aset berisiko dan memburu instrumen aman, termasuk emas dan dolar AS. Akibatnya, rupiah berpotensi terdepresiasi menuju Rp 17.000 per dolar AS apabila ketegangan terus meningkat.





Proyeksi Harga Emas





KomoditasHarga Saat IniResisten 1Potensi Eskalasi
Emas DuniaUS$ 5.280/ozUS$ 5.365/ozUS$ 5.500/oz
Emas AntamRp 3.085.000/grRp 3.150.000/grRp 3.400.000/gr









Dampak ke Indonesia: Bukan Jalur Perdagangan, tapi Energi dan Keuangan





Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef, M. Rizal Taufikurahman, memberikan perspektif penting. Ia menegaskan bahwa dampak konflik Israel–Iran terhadap Indonesia tidak datang dari jalur perdagangan langsung, mengingat nilai perdagangan Indonesia-Iran relatif kecil, hanya sekitar US$ 200 juta per tahun.






"Secara angka perdagangan, perdagangan langsung Indonesia–Iran hanya sekitar 200 juta dolar AS per tahun, sangat kecil untuk ukuran ekonomi Indonesia. Jadi, konflik tidak akan menjatuhkan ekspor Indonesia. Yang berbahaya bukan trade channel, tetapi oil channel," ujar Rizal.


Halaman:

Tags

Terkini