LOCUSonline - Nilai tukar rupiah kembali menjadi sorotan setelah mengalami tekanan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) hingga mendekati level Rp18.000 per dolar. Pemerintah menyebut pelemahan tersebut dipengaruhi sentimen pasar yang terganggu oleh berbagai isu dan rumor yang beredar.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa angkat bicara mengenai kondisi tersebut. Ia menilai pergerakan rupiah dalam beberapa hari terakhir tidak semata-mata dipicu oleh kondisi fundamental ekonomi, melainkan juga oleh informasi simpang siur yang memengaruhi persepsi pelaku pasar.
"Kalau kita lihat, pelemahannya terjadi tiba-tiba dalam satu dua hari terakhir. Ada berbagai isu dan rumor yang beredar di pasar sehingga sentimen terhadap rupiah ikut tertekan," terang Purbaya kepada wartawan di Gedung DPR, Jakarta, Rabu (3/6/2026).
Menurutnya, salah satu kabar yang beredar menyebut pemerintah meminta sektor perbankan melakukan uji ketahanan apabila dolar AS menembus Rp18.000. Purbaya menegaskan kabar tersebut tidak berasal dari dirinya.
"Ada yang bilang saya meminta perbankan melakukan stress test kalau dolar sampai Rp18.000 lebih. Padahal saya tidak pernah menyampaikan hal itu," katanya.
Baca Juga: Harga Sembako Naik, Dompet Mahasiswa Garut Ikut ‘Diet’: Ayam Minggir, Sayur Jadi Penyelamat
Purbaya menyebut kondisi pasar keuangan memang sangat sensitif terhadap informasi. Dalam situasi tertentu, kabar yang belum tentu benar dapat bergerak lebih cepat dibandingkan klarifikasi resmi, karena di pasar terkadang rumor punya kaki lebih panjang daripada data.
Ia menjelaskan bahwa pengelolaan nilai tukar merupakan kewenangan Bank Indonesia sebagai bank sentral. Sementara pemerintah melalui Kementerian Keuangan fokus menjaga stabilitas ekonomi secara menyeluruh.
"Kewajiban kami adalah memastikan fondasi ekonomi tetap kuat, pertumbuhan berjalan, dan aktivitas ekonomi semakin cepat," ucapnya.
Menurut Purbaya, nilai tukar dalam jangka panjang akan mengikuti kekuatan fundamental ekonomi. Karena itu, pemerintah tidak ingin hanya bereaksi terhadap gejolak harian, tetapi memperkuat sektor ekonomi yang menjadi dasar kepercayaan pasar.
"Kalau soal nilai tukar, bank sentral adalah ahlinya. Kita serahkan kepada bank sentral," tegasnya.
Pelemahan rupiah ini kembali membuka perdebatan mengenai ketahanan ekonomi nasional. Di satu sisi pasar bergerak berdasarkan sentimen, sementara di sisi lain pemerintah dituntut memastikan angka-angka ekonomi tidak hanya terlihat stabil di laporan, tetapi juga terasa dalam kehidupan masyarakat.*****
Artikel Terkait
Praperadilan Kasus Penyiraman Air Keras Aktivis KontraS Dikabulkan, Polisi Diminta Jangan Jadikan Berkas Sebagai “Barang Pajangan”
Update Anyar FF Kipas APK Versi 12.1 Instal Download dan Nikmati God MOD
Skuad Impian Tanpa Top-Up: Mengamankan Kode Redeem FC Mobile Terbaru dan Strategi Menghadapi Event Besar
Bocoran Jadwal Rilis Smartphone Premium: Trio Xiaomi, Vivo, dan Oppo Siap Perang Terbuka di Bulan September
Lompatan Ekstrem Vivo: X500 Pro Max Siap Bawa Baterai Raksasa 8.000 mAh dan Layar 2K
Kajari Kota Bandung Hentikan Penyidikan Kasus Dugaan Korupsi Wakil Walikota Bandung, Ini Alasannya…
“Bupati Garut Anti Kritik!” Dapat Tantangan GLMPK, Batalkan Izin Pabrik PT Pratama Abadi Industri, Ini Alasan Hukumnya…
Eks Pimpinan BGN Jadi Tersangka Korupsi MBG, Program Makan Bergizi Terancam Tersandung “Piring Politik”
Skandal Tata Kelola MBG: Dari Program Gizi Jadi Ladang Dugaan, Kejagung Bongkar Jejak Miliaran Rupiah
Bupati Garut Paksa Berhenti Tambang Pasir: Izin Belum Lengkap, Alam Tak Bisa Terus Jadi Tumbal Pembangunan