Kamis, 4 Juni 2026

Rupiah Mendekati Rp18.000 per Dolar, Menkeu Sebut Pasar Lagi “Banjir Cerita”: Fondasi Ekonomi Jadi Ujian

Photo Author
Bhegin, Locusonline.co
- Kamis, 4 Juni 2026 | 12:05 WIB
Gambar Ilustrasi (Generated by Gemini Ai)
Gambar Ilustrasi (Generated by Gemini Ai)

LOCUSonline - Nilai tukar rupiah kembali menjadi sorotan setelah mengalami tekanan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) hingga mendekati level Rp18.000 per dolar. Pemerintah menyebut pelemahan tersebut dipengaruhi sentimen pasar yang terganggu oleh berbagai isu dan rumor yang beredar.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa angkat bicara mengenai kondisi tersebut. Ia menilai pergerakan rupiah dalam beberapa hari terakhir tidak semata-mata dipicu oleh kondisi fundamental ekonomi, melainkan juga oleh informasi simpang siur yang memengaruhi persepsi pelaku pasar.

"Kalau kita lihat, pelemahannya terjadi tiba-tiba dalam satu dua hari terakhir. Ada berbagai isu dan rumor yang beredar di pasar sehingga sentimen terhadap rupiah ikut tertekan," terang Purbaya kepada wartawan di Gedung DPR, Jakarta, Rabu (3/6/2026).

Menurutnya, salah satu kabar yang beredar menyebut pemerintah meminta sektor perbankan melakukan uji ketahanan apabila dolar AS menembus Rp18.000. Purbaya menegaskan kabar tersebut tidak berasal dari dirinya.

"Ada yang bilang saya meminta perbankan melakukan stress test kalau dolar sampai Rp18.000 lebih. Padahal saya tidak pernah menyampaikan hal itu," katanya.

Baca Juga: Harga Sembako Naik, Dompet Mahasiswa Garut Ikut ‘Diet’: Ayam Minggir, Sayur Jadi Penyelamat

Purbaya menyebut kondisi pasar keuangan memang sangat sensitif terhadap informasi. Dalam situasi tertentu, kabar yang belum tentu benar dapat bergerak lebih cepat dibandingkan klarifikasi resmi, karena di pasar terkadang rumor punya kaki lebih panjang daripada data.

Ia menjelaskan bahwa pengelolaan nilai tukar merupakan kewenangan Bank Indonesia sebagai bank sentral. Sementara pemerintah melalui Kementerian Keuangan fokus menjaga stabilitas ekonomi secara menyeluruh.

"Kewajiban kami adalah memastikan fondasi ekonomi tetap kuat, pertumbuhan berjalan, dan aktivitas ekonomi semakin cepat," ucapnya.

Menurut Purbaya, nilai tukar dalam jangka panjang akan mengikuti kekuatan fundamental ekonomi. Karena itu, pemerintah tidak ingin hanya bereaksi terhadap gejolak harian, tetapi memperkuat sektor ekonomi yang menjadi dasar kepercayaan pasar.

"Kalau soal nilai tukar, bank sentral adalah ahlinya. Kita serahkan kepada bank sentral," tegasnya.

Pelemahan rupiah ini kembali membuka perdebatan mengenai ketahanan ekonomi nasional. Di satu sisi pasar bergerak berdasarkan sentimen, sementara di sisi lain pemerintah dituntut memastikan angka-angka ekonomi tidak hanya terlihat stabil di laporan, tetapi juga terasa dalam kehidupan masyarakat.*****

Editor: Bhegin

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X