"Walaupun global begitu, tapi permintaan (domestik) masih kencang. Mungkin (ekonomi) akan melambat kalau (konflik) naik terus. Tapi saya akan jaga permintaan domestik," tegasnya.
Beberapa langkah strategis yang ditempuh pemerintah untuk menjaga stabilitas antara lain:
| Strategi | Implementasi |
|---|---|
| Dukungan Sektor Swasta | Insentif dan kemudahan berusaha untuk menjaga produktivitas dunia usaha |
| Menjaga Daya Beli Masyarakat | Pengendalian inflasi, stabilitas harga pangan, dan bantuan sosial tepat sasaran |
| Pengelolaan Harga BBM Subsidi | Melindungi masyarakat dari lonjakan harga minyak dunia akibat konflik |
| Belanja Pemerintah Tepat Waktu | Akselerasi realisasi APBN untuk mendorong pertumbuhan ekonomi |
Dari Tinjauan Lapangan Hingga Optimisme Pasca-Lebaran
Menkeu tidak hanya berbicara dari balik data statistik. Ia mengaku telah melakukan peninjauan lapangan langsung selama bulan Ramadhan untuk melihat secara nyata kondisi perekonomian dan aktivitas masyarakat.
Secara keseluruhan, indikator ekonomi makro maupun tinjauan di lapangan menunjukkan bahwa perekonomian nasional relatif terjaga. Purbaya pun optimistis bahwa prospek ekonomi setelah Idul Fitri akan tetap cerah, selama pemerintah konsisten menjaga stabilitas dan daya beli.
Meski demikian, ia mengakui bahwa eskalasi konflik geopolitik yang terus meningkat dapat menjadi ancaman. Jika ketegangan global naik terus, ekonomi nasional berpotensi melambat. Namun, pemerintah telah menyiapkan bantalan pengaman untuk mengantisipasi skenario terburuk.
"Kami menjaga betul supaya masyarakat bisa beraktivitas dengan normal. Semaksimal mungkin ke depan akan dijaga seperti itu," pungkasnya.
Pernyataan optimistis dari Menkeu ini menjadi angin segar bagi pelaku usaha dan masyarakat di tengah ketidakpastian global. Dengan fundamental yang solid dan strategi mitigasi yang matang, Indonesia optimistis melangkah menuju pertumbuhan ekonomi yang berkualitas di sisa tahun 2026. (**)