LOCUSonline, JAKARTA - Ekonomi Indonesia pada kuartal I-2026 tumbuh 5,61 persen secara tahunan. Angka itu lebih tinggi dibanding kuartal sebelumnya yang berada di level 5,39 persen dan melampaui prediksi pasar. Pemerintah tentu boleh tersenyum, pelaku usaha boleh sedikit lega, dan masyarakat boleh kembali diyakinkan bahwa ekonomi nasional sedang baik-baik saja.
Namun di balik angka pertumbuhan yang tampak gagah itu, terselip cerita menarik ketika sebagian investor asing mulai perlahan keluar lewat pintu belakang, China justru masuk lewat pintu depan sambil membawa investasi, barang murah, hingga utang berdenominasi yuan.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan konsumsi rumah tangga masih menjadi tulang punggung ekonomi dengan pertumbuhan 5,52 persen. Ramadan, Lebaran dan harga BBM subsidi yang tetap disayang pemerintah menjadi vitamin utama konsumsi masyarakat.
Sementara itu, belanja pemerintah melonjak 21,81 persen. Salah satu penyebabnya adalah percepatan program Makan Bergizi Gratis (MBG), program yang kini bukan hanya mengenyangkan siswa, tetapi juga ikut menggemukkan angka pertumbuhan ekonomi nasional.
Di tengah perlambatan global yang membuat banyak negara sibuk mengencangkan ikat pinggang, China justru tampil sebagai teman setia ekonomi Indonesia.
Laporan The Focal Point dari BCA mencatat investasi langsung asing (FDI) ke Indonesia tumbuh 5,2 persen pada kuartal I-2026 dan sebagian besar dorongannya datang dari investor asal China.
Ironisnya di saat investasi langsung China terus mengalir, investor asing lain justru terlihat mulai kehilangan gairah. Dana asing di pasar saham dan obligasi Indonesia tercatat keluar hingga US$3,47 miliar sepanjang tahun berjalan.
Artinya, ketika investor portofolio lain sibuk kabur dari volatilitas pasar domestik, China malah masih rajin membangun pabrik, smelter dan rantai industri.
BCA bahkan mencatat setiap investasi US$1 juta dari China mampu menciptakan sekitar 18,4 lapangan kerja, sedikit lebih tinggi dibanding investasi negara lain yang rata-rata menciptakan 17,3 pekerjaan.
Tentu saja ini kabar baik bagi pemerintah yang sedang berpacu menurunkan pengangguran. Namun seperti biasa, setiap hadiah ekonomi selalu datang dengan catatan kaki kecil yang baru terasa belakangan.
BCA mengingatkan dominasi investasi China juga berpotensi memperbesar repatriasi keuntungan ke luar negeri. Dengan kata lain, keuntungan perusahaan asing bisa saja lebih sering pulang kampung ketimbang berputar lama di dalam negeri.
Belum lagi banjir barang murah asal China yang kini makin deras masuk ke pasar domestik. Di satu sisi, masyarakat senang karena harga barang tetap murah di tengah rupiah yang melemah. Tetapi di sisi lain, industri lokal mulai megap-megap menghadapi produk impor dengan harga yang sulit disaingi.
Fenomena ini membuat banyak pelaku industri dalam negeri seperti sedang ikut lomba lari, tetapi lawannya datang membawa sepeda motor.