ekonomi

Rupiah Tembus Rp17.663 per Dolar AS, Prabowo Minta Rakyat Tenang "Orang Desa Tidak Pakai Dolar"

Senin, 18 Mei 2026 | 16:05 WIB
Gambar Ilustrasi (Generated by Gemini AI)

LOCUSonline, NGANJUK - Nilai tukar rupiah kembali terpuruk hingga menyentuh level Rp17.663 per dolar Amerika Serikat. Namun di tengah kepanikan pasar dan kekhawatiran pelaku usaha, pemerintah memilih menyampaikan pesan optimistis, bahwa Indonesia tetap kuat, rakyat diminta tenang dan warga desa dianggap tidak terlalu terdampak karena sehari-hari tidak bertransaksi memakai mata uang dolar.

Pernyataan itu disampaikan langsung Presiden RI, Prabowo Subianto, saat menghadiri kegiatan di Nganjuk, Sabtu (16/5/2026). Dalam pidatonya, Prabowo menyebut masyarakat tidak perlu terlalu khawatir terhadap pelemahan rupiah selama Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa masih bisa tersenyum.

"Selama Purbaya bisa senyum, tenang saja. Mau dolar berapa ribu kek, kan kalian di desa-desa enggak pakai dolar," ujar Prabowo Subianto.

Pernyataan tersebut sontak menjadi perhatian publik. Sebab meski masyarakat desa memang jarang membeli kopi memakai dolar AS, mereka tetap harus membeli pupuk, bahan bakar, logistik, hingga kebutuhan pokok yang harganya ikut terdorong ketika nilai tukar rupiah melemah. Dengan kata lain, rakyat memang tidak memegang dolar, tetapi dampaknya tetap mampir ke dapur rumah masing-masing.

Meski demikian, Prabowo Subianto menegaskan fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat dan meminta masyarakat percaya terhadap kemampuan pemerintah menghadapi tekanan global.

"Percaya ekonomi kita kuat, fundamental kita kuat," kata Prabowo.

Baca Juga: Libur Kenaikan Yesus 2026 Bikin Jalan Tol Seperti Karnaval : 487 Ribu Kendaraan Tinggalkan Jabotabek

Sementara itu, Purbaya Yudhi Sadewa juga meminta masyarakat tidak panik menghadapi kondisi rupiah yang terus melemah. Ia menilai kondisi ekonomi Indonesia saat ini masih jauh lebih baik dibanding krisis 1998.

"Kita enggak akan sejelek tahun 98 lagi," ujar Purbaya di Gedung Kejaksaan Agung, Jakarta, Rabu (13/5/2026).

Optimisme pemerintah itu datang di tengah kondisi rupiah yang terus mengalami tekanan. Per Jumat (15/5/2026), kurs dolar AS telah menembus kisaran Rp17.600. Angka tersebut menjadi salah satu level terlemah rupiah dalam sejarah modern Indonesia dan membuat masyarakat kembali akrab dengan istilah “fundamental ekonomi kuat” yang biasanya muncul bersamaan dengan grafik nilai tukar yang justru melemah.

Untuk menahan tekanan rupiah, Bank Indonesia menyiapkan tujuh langkah intervensi. Langkah tersebut meliputi intervensi pasar valuta asing, pembelian surat utang negara, penguatan likuiditas perbankan, hingga pengawasan terhadap bank dan korporasi yang dianggap terlalu aktif membeli dolar.

Baca Juga: Daya Beli Melemah? Warung Madura Mulai Jadi “Sensor Ekonomi” Rakyat Kecil

Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, menyatakan rupiah sebenarnya sudah berada di bawah nilai wajarnya atau undervalued.

"Fundamental kita kuat. Pertumbuhan tinggi, inflasi rendah, cadangan devisa kuat. Mestinya rupiah stabil dan cenderung menguat," ujarnya.

Menurut Perry Warjiyo, tekanan terhadap rupiah dipengaruhi faktor global seperti tingginya harga minyak dunia, penguatan dolar AS, dan kenaikan suku bunga Amerika Serikat. Selain itu, faktor musiman seperti kebutuhan devisa untuk pembayaran utang dan keberangkatan jemaah haji juga turut memberi tekanan terhadap rupiah.

Halaman:

Tags

Terkini