ekonomi

IHSG Tumbang Hampir 5 Persen, Rupiah Melemah dan Investor Asing Angkat Kaki dari Pasar

Kamis, 4 Juni 2026 | 12:35 WIB
Gambar Ilustrasi (Generated by Gemini Ai)

LOCUSonline - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan berat pada perdagangan Rabu (3/6/2026). Indeks saham nasional anjlok hampir 5 persen pada sesi pertama akibat kombinasi pelemahan rupiah, penguatan dolar Amerika Serikat (AS), serta aksi jual investor asing yang masih membayangi pasar domestik.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG pada penutupan perdagangan sesi I terkoreksi 305,94 poin atau setara 4,94 persen ke posisi 5.889,48.

Pasar saham kembali menunjukkan wajah gugupnya. Ketika nilai tukar bergerak melemah dan dolar menguat, investor seolah kembali memainkan tombol panik, ini membuktikan bahwa pasar modal sering kali tidak hanya bergerak dengan angka, tetapi juga dengan rasa khawatir.

Analis MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana atau Didit, menjelaskan tekanan IHSG berkaitan erat dengan pelemahan rupiah terhadap dolar AS yang menyentuh kisaran Rp17.900 per dolar AS.

"Koreksi IHSG saat ini dipengaruhi pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang sudah berada di sekitar level Rp17.900," ujar Didit.

Baca Juga: Daftar Harga Resmi BBM Pertamina Juni 2026: Pertamax Turbo Naik, Solar Non-Subsidi Turun, Pengendara Diminta Cek Pompa Sebelum Mengeluh

Selain tekanan dari pasar valuta asing, pergerakan IHSG juga terbebani oleh saham sejumlah perusahaan besar yang sebelumnya mengalami kenaikan signifikan. Beberapa saham bahkan sempat menyentuh batas kenaikan harian tertinggi atau auto reject atas (ARA), sebelum akhirnya ikut memberi tekanan terhadap indeks.

"Pergerakan IHSG turut terbebani oleh saham-saham konglomerasi yang dalam beberapa hari terakhir mengalami penguatan besar," katanya.

Dari sisi analisis teknikal, Didit menilai tren IHSG masih berada dalam fase pelemahan dan belum menunjukkan sinyal kuat untuk berbalik arah.

"Pergerakan indeks masih berada dalam tren turun dan belum terlihat tanda pembalikan arah yang valid," jelasnya.

Baca Juga: Tarif Pajak UMKM 0,5% Dipersempit, CV dan PT Kini Diajak “Naik Kelas” ke Jalur Pajak Reguler

Sementara itu, pengamat pasar modal Reydi Octa menilai tekanan IHSG tidak hanya berasal dari faktor domestik, tetapi juga situasi ekonomi global yang membuat investor lebih memilih aset yang dianggap aman.

"Penguatan dolar AS, tingginya suku bunga global, dan kecenderungan investor mencari aset aman membuat tekanan jual di pasar saham meningkat," kata Reydi.

Menurut Reydi, pelemahan rupiah turut mengurangi minat investor terhadap aset berisiko seperti saham. Ditambah keluarnya dana asing dari pasar Indonesia, tekanan terhadap IHSG semakin besar.

Pelaku pasar kini masih mencermati arah ekonomi nasional, terutama terkait pertumbuhan ekonomi dan tingkat risiko investasi. Jika sentimen global belum mereda, pasar saham domestik diperkirakan masih harus menghadapi periode penuh gejolak.

Halaman:

Tags

Terkini