Kamis, 4 Juni 2026

Sahroni Desak Polisi Berantas Akar Premanisme Usai Ayah Pengantin Tewas Dikeroyok di Purwakarta

Photo Author
Admin Locus, Locusonline.co
- Senin, 6 April 2026 | 18:38 WIB



"Akar permasalahannya harus diberantas, jaringan, dan kebiasaan pungli seperti ini harus dihentikan total agar masyarakat benar-benar merasa aman di lingkungannya," kata Sahroni.





Target PemberantasanKeterangan
Eksekutor lapanganPreman kelas bawah yang bertindak langsung
Otak pelaku / pemimpinYang mengorganisir dan melindungi aksi premanisme
Jaringan & organisasiWadah yang menaungi praktik premanisme
Kebiasaan pungliPraktik pemerasan yang sudah mengakar




Kronologi: Ayah Pengantin Tewas Ditolak "Jatah" Rp100 Ribu





Kasus ini bermula dari pesta pernikahan anak Dadang di Desa Kertamukti, Kecamatan Campaka, Kabupaten Purwakarta, pada Sabtu (4/4/2026). Sekelompok pemuda yang diduga mabuk mendatangi lokasi hajatan dan meminta "jatah" kepada tuan rumah.





KronologiKeterangan
Permintaan pertamaKelompok preman meminta uang jatah
Tawaran korbanDadang menawarkan Rp100 ribu
Penolakan pelakuPreman menolak dengan alasan kurang
PenganiayaanDadang dikeroyok hingga tewas




Setelah ditawari uang Rp100 ribu, para preman justru menolak dengan alasan kurang. Keributan pun tak terhindarkan, dan Dadang menjadi korban penganiayaan brutal hingga meregang nyawa.





Polisi menyatakan bahwa aksi premanisme ini dipicu oleh konsumsi minuman beralkohol yang membuat para pelaku bersikap arogan dan memicu keributan.





Polisi Masih Dalami Kasus





Pihak kepolisian saat ini masih melakukan penyelidikan lebih lanjut terkait kasus ini. Identitas para pelaku sedang didalami, dan proses pengejaran terus dilakukan.





Kasus ini menjadi perhatian nasional karena menyentuh rasa keadilan masyarakat, terutama terkait maraknya aksi premanisme dan pungutan liar (pungli) di berbagai daerah yang kerap kali meresahkan warga.





Seruan untuk Perlindungan Masyarakat





Sahroni mengingatkan bahwa negara hadir untuk melindungi warganya. Aksi premanisme yang merenggut nyawa warga sipil yang sedang berbahagia di hari pernikahan anaknya adalah bentuk kegagalan pengawasan dan penegakan hukum di tingkat akar rumput.





"Polisi harus hadir, bukan hanya setelah kejadian, tapi juga mencegah sebelum terjadi. Masyarakat butuh rasa aman," pungkas Sahroni. (**)

Halaman:

Editor: Admin Locus

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Terkini

X