"Akar permasalahannya harus diberantas, jaringan, dan kebiasaan pungli seperti ini harus dihentikan total agar masyarakat benar-benar merasa aman di lingkungannya," kata Sahroni.
| Target Pemberantasan | Keterangan |
|---|---|
| Eksekutor lapangan | Preman kelas bawah yang bertindak langsung |
| Otak pelaku / pemimpin | Yang mengorganisir dan melindungi aksi premanisme |
| Jaringan & organisasi | Wadah yang menaungi praktik premanisme |
| Kebiasaan pungli | Praktik pemerasan yang sudah mengakar |
Kronologi: Ayah Pengantin Tewas Ditolak "Jatah" Rp100 Ribu
Kasus ini bermula dari pesta pernikahan anak Dadang di Desa Kertamukti, Kecamatan Campaka, Kabupaten Purwakarta, pada Sabtu (4/4/2026). Sekelompok pemuda yang diduga mabuk mendatangi lokasi hajatan dan meminta "jatah" kepada tuan rumah.
| Kronologi | Keterangan |
|---|---|
| Permintaan pertama | Kelompok preman meminta uang jatah |
| Tawaran korban | Dadang menawarkan Rp100 ribu |
| Penolakan pelaku | Preman menolak dengan alasan kurang |
| Penganiayaan | Dadang dikeroyok hingga tewas |
Setelah ditawari uang Rp100 ribu, para preman justru menolak dengan alasan kurang. Keributan pun tak terhindarkan, dan Dadang menjadi korban penganiayaan brutal hingga meregang nyawa.
Polisi menyatakan bahwa aksi premanisme ini dipicu oleh konsumsi minuman beralkohol yang membuat para pelaku bersikap arogan dan memicu keributan.
Polisi Masih Dalami Kasus
Pihak kepolisian saat ini masih melakukan penyelidikan lebih lanjut terkait kasus ini. Identitas para pelaku sedang didalami, dan proses pengejaran terus dilakukan.
Kasus ini menjadi perhatian nasional karena menyentuh rasa keadilan masyarakat, terutama terkait maraknya aksi premanisme dan pungutan liar (pungli) di berbagai daerah yang kerap kali meresahkan warga.
Seruan untuk Perlindungan Masyarakat
Sahroni mengingatkan bahwa negara hadir untuk melindungi warganya. Aksi premanisme yang merenggut nyawa warga sipil yang sedang berbahagia di hari pernikahan anaknya adalah bentuk kegagalan pengawasan dan penegakan hukum di tingkat akar rumput.
"Polisi harus hadir, bukan hanya setelah kejadian, tapi juga mencegah sebelum terjadi. Masyarakat butuh rasa aman," pungkas Sahroni. (**)