- Pemecatan Perawat: Krisna meminta perawat yang terlibat dipecat, tidak hanya dipindahtugaskan. "Jangan hanya sekadar nonaktif, kita minta pemecatan, karena kenapa mencoba mengalihkan bayi," tegasnya.
- Pembukaan Rekaman CCTV: Pihak keluarga mendesak rumah sakit untuk membuka rekaman CCTV guna mengidentifikasi identitas pasangan pria dan wanita yang hampir membawa pulang bayi tersebut, serta mengungkap motif sebenarnya di balik kejadian.
- Tes DNA oleh Tim Independen: Sebagai langkah ekstrem untuk memastikan tidak ada "tukar bayi", Krisna meminta dilakukan tes DNA dengan pengawasan tim independen dari luar rumah sakit.
- Sanksi untuk Petugas Keamanan: Pihak rumah sakit juga dinilai lalai karena lebih tertarik menyita HP Nina daripada mengejar pelaku.
Pihak RSHS diberi waktu 3x24 jam untuk menjawab somasi tersebut. Jika tidak ada itikad baik, Krisna memastikan kasus ini akan dibawa ke ranah pidana.
Latar Belakang: Viral dan Tekanan Publik
Unggahan Nina Saleha di media sosial TikTok mengenai pengalamannya viral pada 8 April 2026, memicu gelombang kritik publik terhadap sistem keamanan RSHS. Kejadian ini bahkan menarik perhatian tokoh publik seperti Dedi Mulyadi (KDM) yang menyoroti kecerobohan tenaga medis.
Meskipun Polrestabes Bandung telah melakukan penyelidikan awal, hingga saat ini proses hukum masih terus bergulir seiring dengan bantahan dari pihak keluarga.
Kasus yang bermula dari klaim "selesai damai" ini kini berubah menjadi polemik hukum yang panas. Di satu sisi, pemerintah dan rumah sakit bersikukuh bahwa ini adalah "kekhilafan" yang sudah dimaafkan. Di sisi lain, keluarga korban melalui kuasa hukumnya menganggap ini adalah kasus pidana serius yang membutuhkan transparansi total, termasuk identifikasi orang yang hampir membawa pulang bayinya dan potensi "jaringan adopsi ilegal" di rumah sakit.
Publik kini menanti sikap RSHS dan kepolisian dalam merespons tuntutan pembukaan CCTV dan tes DNA untuk memadamkan spekulasi yang meresahkan ini.