Jumat, 5 Juni 2026

Masuk Board of Peace: Antara Diplomasi Luwes dan Kecurigaan Publik

Photo Author
Bhegin, Locusonline.co
- Sabtu, 7 Maret 2026 | 14:25 WIB
Gambar Ilustrasi Istimewa
Gambar Ilustrasi Istimewa


LOCUSONLINE, SURABAYA - Ketika pemerintah Indonesia memutuskan bergabung dalam forum internasional bernama Board of Peace, reaksi publik pun bermunculan. Sebagian melihat langkah itu sebagai bagian dari strategi diplomasi yang wajar di tengah peta kekuatan global yang semakin rumit. Namun di sisi lain, tidak sedikit yang menanggapinya dengan nada skeptis, bahkan mengaitkannya dengan sikap moral Indonesia terhadap isu Palestina dan dinamika konflik di Timur Tengah.





Perdebatan tersebut menunjukkan satu hal yang makin jelas, dimana kebijakan luar negeri Indonesia kini tidak lagi dipandang sekadar urusan elite diplomasi di ruang perundingan internasional. Ia telah berubah menjadi bahan diskusi publik, bahkan arena tarik-menarik interpretasi politik di dalam negeri.





Di tengah silang pendapat tersebut, pertanyaan yang sebenarnya lebih mendasar justru jarang dibahas. Bukan sekadar apakah keputusan bergabung dalam Board of Peace tepat atau keliru, melainkan mengapa langkah tersebut diambil oleh pemerintah Indonesia.





Untuk memahami keputusan itu, konteks global tidak bisa diabaikan. Sistem internasional saat ini bergerak menuju tatanan yang semakin multipolar. Dominasi satu kekuatan global yang sempat menguat setelah berakhirnya Perang Dingin perlahan memudar, digantikan oleh munculnya sejumlah kekuatan ekonomi dan politik baru.





Persaingan antara Amerika Serikat dan China menjadi salah satu faktor utama yang membentuk ulang peta geopolitik dunia. Dalam situasi seperti ini, negara-negara menengah seperti Indonesia menghadapi dilema yang tidak sederhana: menjaga otonomi strategis tanpa terseret dalam rivalitas blok kekuatan besar.





Dalam kajian Hubungan Internasional, situasi semacam ini sering dijelaskan melalui pendekatan realisme. Perspektif ini memandang negara bertindak terutama berdasarkan kepentingan nasional serta perhitungan kekuatan dalam sistem internasional yang bersifat kompetitif.





Namun perkembangan teori menunjukkan bahwa kebijakan luar negeri tidak semata ditentukan oleh tekanan struktur global. Cara para pemimpin menafsirkan perubahan geopolitik juga memainkan peran penting.


Halaman:

Editor: Bhegin

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Terkini

X