Kamis, 4 Juni 2026

Kasus Campak dan Rubela di Garut Meledak, Anak-anak Jadi Korban Imunisasi Mendadak Dicari

Photo Author
Bhegin, Locusonline.co
- Senin, 11 Mei 2026 | 10:00 WIB
Gambar Ilustrasi (Generated by Gemini AI)
Gambar Ilustrasi (Generated by Gemini AI)

LOCUSonline, GARUT - Gelombang kasus campak dan rubela di Kabupaten Garut sejak awal 2026 membuat dunia kesehatan kembali sibuk mengingatkan publik bahwa imunisasi ternyata bukan sekadar formalitas buku kesehatan anak. Di tengah euforia mudik dan silaturahmi Lebaran, virus justru ikut menikmati momen kumpul keluarga dengan cara yang jauh lebih agresif.

Dinas Kesehatan Kabupaten Garut mencatat sebanyak 112 kasus campak dan rubela ditemukan sejak Januari 2026. Dari jumlah tersebut, 110 kasus merupakan campak dan dua kasus lainnya rubela. Wilayah Garut selatan disebut menjadi langganan podium penyebaran terbanyak, terutama di Kecamatan Pameungpeuk, Cisompet, Cibalong, dan Cikelet.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Garut, dr. Asep Surahman, mengatakan seluruh kasus telah dipastikan melalui pemeriksaan laboratorium di Labkesda Provinsi Jawa Barat. Meski sempat menjalani perawatan di puskesmas dan rumah sakit, seluruh pasien kini dinyatakan sembuh.

"Seluruh pasien dirawat di puskesmas dan rumah sakit, semuanya sudah dinyatakan sembuh," ujar Asep, Jumat (8/5/2026).

Baca Juga: Jembatan Hanyut, Warga Bertahun-Tahun “Uji Nyali”: Bupati Garut Janjikan Akses Baru untuk Kadongdong–Padahurip

Menurut Asep, campak dan rubela memang tampak seperti saudara kembar karena memiliki gejala hampir serupa. Keduanya sama-sama menular lewat percikan air liur saat penderita batuk, bersin, maupun melalui saluran pernapasan. Bedanya, rubela dinilai lebih berbahaya meski jumlah kasusnya lebih sedikit.

"Yang membedakan hasil labnya karena virusnya berbeda. Tetapi rubela lebih berbahaya," katanya.

Dinkes Garut mencatat sekitar 70 persen penderita berasal dari kelompok usia satu hingga lima tahun. Namun, kini mulai muncul pola baru, yakni penularan pada kelompok usia dewasa antara 15 hingga 40 tahun. Kondisi tersebut diduga berkaitan dengan imunisasi yang tidak lengkap, sehingga antibodi terhadap campak dan rubela tidak terbentuk secara optimal.

"Ini dimungkinkan karena status imunisasinya tidak lengkap, sehingga daya tahan tubuh terhadap campak dan rubela tidak terbentuk," ucap Asep.

Baca Juga: Disdukcapil Garut Jemput Bola ke Panti Difabel demi KTP yang Selama Ini Susah Dijangkau

Ironisnya, setelah Lebaran usai dan ketupat mulai menghilang dari meja makan, angka kasus justru melonjak. Mobilitas masyarakat yang tinggi selama libur Idulfitri diduga menjadi jalan tol gratis bagi penyebaran virus antarwilayah.

Sebelumnya, jumlah kasus hanya berkisar satu hingga dua kasus. Namun, setelah arus mudik dan silaturahmi berlangsung, lonjakan terjadi cukup signifikan.

Dari total kasus yang ditemukan, sekitar 65 persen dialami anak laki-laki. Menurut Asep, hal itu berkaitan dengan aktivitas mereka yang lebih sering bermain di luar rumah dan berinteraksi dengan banyak orang.

"Mayoritas laki-laki karena lebih sering bermain di luar dan bergaul," katanya.

Halaman:

Editor: Bhegin

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X