LOCUSonline, GARUT - Setelah bertahun-tahun warga dipaksa akrab dengan jembatan darurat ala survival mode, Pemerintah Kabupaten Garut akhirnya bergerak mempercepat pembangunan jembatan penghubung strategis antara Desa Kadongdong dan Desa Padahurip, Kecamatan Banjarwangi, yang sebelumnya hanyut diterjang banjir bandang.
Bupati Garut, Abdusy Syakur Amin turun langsung meninjau lokasi calon pembangunan jembatan gantung baru pada Jumat (8/5/2026). Peninjauan dilakukan untuk memastikan kesiapan lahan dan akses pembangunan yang nantinya didanai pemerintah pusat melalui Kementerian PUPR.
Dalam kunjungan itu, Syakur didampingi Kepala Dinas PUPR Garut Agus Ismail, Kepala Dinas Sosial, serta aparatur kecamatan dan desa setempat.
Di hadapan warga, Bupati Garut menegaskan pembangunan jembatan tersebut menjadi langkah cepat memulihkan akses masyarakat yang selama ini praktis terputus sejak jembatan lama ambruk diterjang banjir pada 2022.
"Diharapkan pembangunan ini bisa selesai secepat-cepatnya karena mendapat bantuan dari pemerintah pusat melalui Kementerian PUPR," ujar Syakur.
Baca Juga: Dugaan Pelanggaran Kode Etik ASN di PUPR Garut, GLMPK Soroti Lemahnya Komitmen Penegakan Disiplin ASN
Bagi warga Padahurip dan Kadongdong, jembatan ini bukan sekadar besi dan kabel baja. Ia adalah jalur hidup masyarakat, tempat anak sekolah lewat, petani mengangkut hasil panen, hingga akses warga menuju pusat kota.
Sejak jembatan lama hanyut, masyarakat terpaksa menggunakan jembatan darurat hasil swadaya. Kondisinya jauh dari ideal, tetapi tetap dipakai karena pilihan lain nyaris tidak ada.
Ironisnya, di saat kota sibuk membahas jalan tol dan transportasi modern, sebagian warga desa masih harus bertaruh keseimbangan demi sekadar menyebrang menuju sekolah atau pasar.
Kepala Dinas PUPR Kabupaten Garut, Agus Ismail, menjelaskan proyek tersebut merupakan bagian dari program Kementerian PU untuk meningkatkan akses pendidikan dan layanan kesehatan di daerah terpencil.
Berdasarkan hasil kajian teknis, jembatan baru akan memiliki bentang utama sekitar 80 meter dengan tambahan sayap masing-masing 13 meter di kedua sisi. Total panjangnya diperkirakan melampaui 100 meter.
Namun pembangunan jembatan rupanya bukan cuma urusan baja dan konstruksi. Tantangan lain muncul dari jalur pendekat atau oprit menuju lokasi.
Agus mengatakan persoalan itu kini mulai teratasi berkat kolaborasi antara pemerintah daerah dan pihak desa.
"Melalui dorongan Pak Bupati, kami melakukan kolaborasi dengan desa untuk membuka akses jalur pendekat baik di Kadongdong maupun Padahurip," jelas Agus.
Baca Juga: Program Gebrak Bambu di Garut, Saat Desa Didorong Mendunia, dari Anyaman ke Ambisi Pasar Global
Kepala Desa Kadongdong, Maoluddin Lapit, mengaku bersyukur atas perhatian pemerintah terhadap kondisi wilayahnya. Menurutnya, keberadaan jembatan baru sangat dinantikan warga karena menjadi akses vital kegiatan ekonomi dan pendidikan.
"Anak sekolah lewat sini, petani juga lewat sini membawa hasil panen. Ini akses penting bagi masyarakat," ujarnya.
Artikel Terkait
3000 Kendaraan Dinas di Kabupaten Bogor Menunggak Pajak, Bupati akan Sanksi Tegas
BMKG Keluarkan Peringatan Dini: Hujan Lebat Disertai Petir dan Angin Kencang di Sejumlah Kota Besar!
Drainase Sempit Picu Banjir di Malangbong Garut, Akses Jalan Mulai Rusak Parah
Gebyar Pesona Budaya Garut 2026 Masuk KEN: Dari Karnaval Sejarah hingga Perputaran Uang Receh yang Dianggap “Ekonomi Kreatif”
Pelantikan Kepala Desa PAW di Garut: Kursi Kosong Terisi, Harapan Baru Dimulai dari Desa
Rapat Paripurna DPRD Garut Bahas LKPJ 2025: Antara Apresiasi, Catatan Kritis dan Janji Evaluasi yang Tak Boleh Sekadar Arsip
Program Gebrak Bambu di Garut, Saat Desa Didorong Mendunia, dari Anyaman ke Ambisi Pasar Global
Hari Otonomi Daerah 2026 di Garut: Dari Semangat Mandiri hingga PR Lama PAD dan SDM yang Tak Kunjung Lulus
Dugaan Pelanggaran Kode Etik ASN di PUPR Garut, GLMPK Soroti Lemahnya Komitmen Penegakan Disiplin ASN
Kakek 78 Tahun Pimpin Proyek Jalan TMMD Garut: Saat Negara Datang, Rakyat Sudah Lebih Dulu Bekerja