[Locusonline.co] JAKARTA – Langkah hilirisasi nikel di Indonesia terus menunjukkan hasil nyata. GEM Group (GEM Co., Ltd.) melalui anak perusahaannya, PT QMB New Energy Materials, mendorong pengolahan bijih nikel kadar rendah menjadi bahan baku baterai kendaraan listrik (EV) global, sekaligus memperkuat posisi Indonesia di rantai pasok energi baru dunia.
Chairman and Founder GEM Group, Prof. Xu Kai Hua, menegaskan bahwa teknologi yang dikembangkan mampu mengolah bijih laterit kadar rendah yang sebelumnya tidak dimanfaatkan secara optimal.
"Dulu bijih laterit kadar rendah di Indonesia banyak yang tidak dimanfaatkan. Sekarang kami bisa mengolahnya, sekaligus memulihkan nikel dan kobalt dengan tingkat recovery lebih dari 90 persen," ujar Prof. Xu Kai Hua dalam keterangannya di Jakarta, Senin (30/3/2026) .
Fasilitas Terintegrasi di Morowali
Pengembangan teknologi ini diiringi dengan pembangunan fasilitas terintegrasi di Morowali, Sulawesi Tengah. Fasilitas ini mencakup pengolahan bijih hingga produksi nikel sulfat dan prekursor baterai, dua komponen vital dalam rantai pasok baterai kendaraan listrik global.
Langkah ini menandai pergeseran strategis Indonesia dari sekadar pemasok bahan mentah menjadi bagian integral dalam rantai pasok energi baru global.
Kontribusi Ekonomi: Ekspor USD2,5 Miliar, Pajak USD400 Juta, 10 Ribu Lapangan Kerja
Dari sisi kinerja industri, kawasan industri GEM Group di Morowali mencatat capaian impresif selama periode 2024–2025:
| Indikator | Nilai / Capaian |
|---|---|
| Nilai Ekspor | USD2,5 miliar |
| Kontribusi Pajak | USD400 juta |
| Lapangan Kerja | >10.000 orang |
Angka ini membuktikan bahwa hilirisasi tidak hanya mengubah struktur industri, tetapi juga memberikan kontribusi ekonomi langsung yang signifikan, baik dari sisi penerimaan negara maupun penyerapan tenaga kerja.