Dampak konflik ini juga mulai memakan korban di sektor bisnis global. Maskapai Spirit Airlines dilaporkan bangkrut setelah 34 tahun beroperasi.
Perusahaan menyebut lonjakan harga minyak sebagai salah satu faktor yang memperburuk kondisi keuangan mereka. Meski demikian, pemerintah AS menilai masalah utama maskapai tersebut sudah lama ada, termasuk model bisnis dan kerugian yang mencapai 1,2 miliar dolar AS sejak 2024.
Dalam bahasa sederhananya konflik mempercepat kejatuhan yang memang sudah di ambang pintu.
Fenomena ini memperlihatkan satu ironi global dimana perang yang terjadi di satu kawasan bisa membuat seluruh dunia ikut membayar biayanya.
Harga minyak naik, rupiah melemah, subsidi membengkak, semua menjadi bukti bahwa dalam ekonomi global, tidak ada konflik yang benar-benar jauh.
Dan bagi masyarakat, mungkin kesimpulannya sederhana, mereka tidak ikut berperang, tapi tetap harus ikut menanggung dampaknya.*****
Artikel Terkait
Keppres Satgas Pertumbuhan Ekonomi 2026 Ketika Ekonomi Butuh Tim Khusus Percepatan
Proyek Listrik Data Center Microsoft Rampung, PLN Pastikan Server Tak Ikut Padam Bergilir di Era Ekonomi Digital
Putri Karlina Promosi Garut Go International, Istri Diplomat Jadi Influencer Dadakan Industri Kulit dan Pariwisata
Industri Manufaktur Indonesia Dikepung Tekanan Global, Pemerintah Siapkan Satgas dan Jurus Tahan Nafas Ekonomi
KPPU–JFTC Perkuat Kerja Sama Awasi Persaingan Usaha Digital, Kartel Kini Tak Cukup Sembunyi di Ruang Rapat
Proyeksi Ekonomi Indonesia Kuartal I 2026 Tumbuh 5,48 Persen, Ditopang THR dan Lebaran di Tengah Tekanan Global
Strategi Airlangga Hadapi Gejolak Selat Hormuz: Impor BBM Aman, LPG Jadi Pahlawan Dadakan Industri Nasional
KAI Luncurkan Kereta Ekonomi New Generation 2026: Tiket Mulai Rp40 Ribu, Kursi Rasa Eksekutif untuk Rakyat yang Sabar
13 Proyek Hilirisasi Nasional Resmi Dimulai: DPR Apresiasi Ekonom Ingatkan Jangan Sampai Hanya Jadi Groundbreaking Seremonial
Walau Berada di Bantaran Rel Kereta, RM Khas Sunda Ini Mampu Bersaing dengan Restoran Mewah