LOCUSonline - Kenaikan harga sejumlah bahan pangan mulai mengubah pola makan mahasiswa di Kabupaten Garut, Jawa Barat. Jika sebelumnya menu ayam atau ikan masih menjadi pilihan rutin, kini sebagian mahasiswa harus melakukan strategi ekonomi tingkat akhir yang menghitung isi dompet sebelum menentukan isi piring.
Dalam beberapa pekan terakhir, harga sejumlah komoditas seperti minyak goreng, cabai, bawang, telur, hingga daging ayam mengalami peningkatan. Dampaknya tidak hanya dirasakan pedagang bahan pokok, tetapi juga menjalar ke warung makan dan kantin kampus yang menjadi tumpuan mahasiswa.
Muhammad Prasetia (23), mahasiswa Universitas Garut, mengaku mulai merasakan perubahan harga makanan harian. Menu yang sebelumnya cukup dibeli dengan uang belasan ribu rupiah kini mulai menembus angka lebih tinggi.
"Biasanya makan sekali sekitar Rp12 ribu sudah bisa dapat ayam atau ikan. Sekarang naik jadi sekitar Rp15 ribuan. Kalau ditambah minum dan kebutuhan lain bisa sampai Rp20 ribu," ujar Prasetia, Selasa (2/6/2026).
Kenaikan tersebut membuat Ahmad harus lebih selektif memilih menu makan. Ia mengaku kini tidak lagi bebas memilih lauk seperti sebelumnya karena harus menyesuaikan dengan anggaran harian.
"Sudah sekitar seminggu terasa naik. Jadi sekarang lebih pilih-pilih kalau makan setelah kuliah," katanya.
Ia menyebut lauk ayam dan ikan yang sebelumnya cukup sering dikonsumsi kini mulai dikurangi. Sebagai gantinya, menu berbasis sayuran menjadi pilihan agar kebutuhan makan tetap terpenuhi tanpa membuat pengeluaran membengkak.
Kondisi serupa dialami Ridwan (22), mahasiswa lainnya. Ia mengatakan uang bulanan dari orang tua masih tetap sama, sementara harga makanan terus bergerak naik.
"Kalau kiriman tetap tapi harga makanan naik, ya harus lebih hemat. Sekarang lebih sering masak bareng teman kos. Uang Rp50 ribu bisa dipakai untuk makan dua hari," ujar Ridwan.
Menurutnya, kenaikan harga pangan cukup berpengaruh bagi mahasiswa yang sebagian besar masih mengandalkan uang kiriman keluarga.
Sementara itu, pelaku usaha kantin kampus juga mulai merasakan efek kenaikan harga bahan baku. Yani (43), pemilik kantin di sekitar Universitas Garut, mengatakan kenaikan harga mulai terasa sejak sekitar satu pekan terakhir.
"Yang paling terasa naik itu minyak, telur, ikan, dan daging. Belum lagi biaya pendukung seperti plastik yang juga sempat naik," kata Yani.
Artikel Terkait
Dewan Bisnis Indonesia-Prancis Resmi Dibentuk, Prabowo dan Macron Satukan Investor dalam Meja yang Lebih Besar dari Sekadar Diplomasi
Tarif Pajak UMKM 0,5% Dipersempit, CV dan PT Kini Diajak “Naik Kelas” ke Jalur Pajak Reguler
Info IHSG Hari ini Melemah dan Investor Asing Angkat Kaki, Saham Perbankan Jadi Korban Utama Aksi Jual Akhir Pekan
Kopi Garut Dilirik Jepang, Tapi Petani Diingatkan: Aroma Floral Saja Belum Cukup untuk Menembus Pasar Premium
KA Cikuray Makin Diminati, Tiket Rp45 Ribu Berhasil Menyatukan Garut, Bandung dan Jakarta dalam Satu Gerbong Harapan
Info Harga Rupiah Hari Menuju Rp18.000? Ketika Dompet Rakyat Dipaksa Menonton Dolar Semakin Perkasa
Warteg Senen Menjerit Saat Libur Idul Adha 2026: Ketika Tanggal Merah Jadi Kabar Merah untuk Pedagang Kecil
Dolar AS Nyaris Rp18.000, Kelas Menengah Diminta Puasa Belanja: Saat Keranjang Online Tak Lagi Bersahabat
Daftar Harga Resmi BBM Pertamina Juni 2026: Pertamax Turbo Naik, Solar Non-Subsidi Turun, Pengendara Diminta Cek Pompa Sebelum Mengeluh
Resmi Berlaku: Devisa Ekspor Tak Lagi Bebas Berkeliaran, Pemerintah Minta Pulang Kampung ke Indonesia