[Locusonline.co] BANDUNG – Kota Bandung telah lama bergelimang predikat sebagai "Paris van Java," pusat mode nasional yang tak pernah kehilangan pesona. Namun, tahun 2026 menjadi saksi babak baru dalam sejarah panjang industri kreatif kota ini. Bandung tidak lagi puas hanya menjadi primadona di tingkat lokal; ibu kota Jawa Barat ini tengah bertransformasi menjadi episentrum fesyen halal dunia.
Langkah ambisius ini sejalan dengan visi besar Pemerintah Provinsi Jawa Barat untuk menjadikan wilayahnya sebagai motor penggerak ekonomi syariah global. Sebuah misi yang tak hanya mengandalkan sejarah, tetapi juga ekosistem industri yang matang dan kolaborasi lintas sektor.
"Paris van Java": Modal Kultural untuk Lompatan Global
Wakil Gubernur Jawa Barat, Erwan Setiawan, menegaskan bahwa identitas Bandung sebagai pusat mode adalah modal utama yang tak ternilai. Hal ini disampaikan dalam konferensi pers Hijabfest x Jabar Halal Fair 2026 yang berlangsung di Sasana Budaya Ganesa (Sabuga) ITB, Sabtu (7/3/2026).
Sinergi antara identitas budaya yang kuat dan pengembangan ekonomi syariah diyakini mampu menempatkan Jawa Barat sebagai rujukan internasional.
"Bandung dikenal sebagai Paris van Java, pusat mode di Indonesia. Ini menjadi kekuatan bagi kita untuk mengembangkan industri fesyen halal yang lebih besar lagi, " ujar Erwan, menekankan peran strategis Kota Kembang dalam cetak biru industri halal provinsi.
Indonesia Dilihat Dunia, Jabar Dilihat Indonesia
Visi ini tidak berhenti pada tataran wacana. Ekosistem industri halal di Jawa Barat, dengan Bandung sebagai episentrumnya, terus tumbuh dan diperkuat. Erwan optimis bahwa provinsi ini dapat menjadi barometer bagi perkembangan industri halal di mata dunia.
"Jawa Barat ini menjadi pionir untuk perkembangan ekonomi syariah Indonesia dan dunia. Dunia melihat perkembangan ekonomi syariah Indonesia, dan Indonesia melihat bagaimana perkembangan ekonomi syariah di Jawa Barat, " kata Erwan, menggambarkan posisi strategis provinsi ini dalam peta ekonomi syariah global.