Salah satu opsi yang diusulkan adalah mengaitkan pembelian EV dengan mekanisme tukar tambah (trade-in) kendaraan lama berbahan bakar minyak. Skema ini diharapkan dapat:
- Mengurangi jumlah kendaraan ICE di jalan
- Mempercepat adopsi EV
- Memberikan nilai ekonomis bagi pemilik kendaraan lama
Transisi Energi: Bukan Sekadar Tambah Jumlah Kendaraan
Agus menekankan bahwa kebijakan kendaraan listrik harus dirancang secara komprehensif. Transisi energi tidak boleh sekadar menambah jumlah kendaraan listrik di jalan, tetapi harus benar-benar mampu mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil.
"Secara keseluruhan, ia menekankan bahwa kebijakan kendaraan listrik harus dirancang secara komprehensif agar transisi energi tidak sekadar menambah jumlah kendaraan, tetapi benar-benar mampu mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil," tegasnya.
Pemerintah Percepat Ekosistem EV Nasional
Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa tingginya konsumsi energi, khususnya dari sumber fosil, mendorong pemerintah semakin serius mempercepat pembangunan ekosistem kendaraan listrik nasional sebagai langkah menuju transisi energi bersih.
Upaya yang dilakukan meliputi:
| Aspek | Langkah |
|---|---|
| Penguatan industri | Pengembangan industri EV dalam negeri |
| Infrastruktur pendukung | Penyediaan stasiun pengisian daya |
| Insentif | Pemberian kemudahan untuk memperluas adopsi EV |
Pemerintah tengah menyiapkan berbagai kemudahan serta insentif untuk mempercepat pelaksanaan program tersebut agar sejalan dengan target yang telah ditetapkan.
Di tengah tekanan harga energi global dan beban subsidi BBM yang terus membengkak (mencapai Rp394,3 triliun pada 2025), percepatan adopsi kendaraan listrik menjadi keniscayaan. Namun, insentif harus diberikan secara tepat sasaran, dan kebijakan harus komprehensif—bukan sekadar menambah jumlah EV, tetapi benar-benar mengurangi ketergantungan pada energi fosil. Skema trade-in kendaraan lama menjadi salah satu opsi yang patut dipertimbangkan. (**)