LOCUSonline, JAKARTA - Nilai tukar rupiah kembali menunjukkan bakatnya sebagai pahlawan tanpa tanda jasa dalam menyerap seluruh tekanan ekonomi global. Pada perdagangan Kamis (28/5/2026), rupiah melemah 54 poin hingga menyentuh level Rp17.855 per dolar Amerika Serikat (AS), membuat dompet masyarakat kembali diajak memahami arti kesabaran dalam bentuk kurs valuta asing.
Melansir berita Media Indonesia. Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia, Fakhrul Fulvian, menilai pelemahan rupiah saat ini sudah masuk fase overshooting. Dalam bahasa ekonomi, artinya rupiah bukan sekadar melemah, tetapi sudah seperti karet ketapel yang ditarik terlalu jauh melebihi kemampuan fundamental ekonomi Indonesia sendiri.
"Rupiah saat ini bergerak lebih dalam dibanding yang sebenarnya dijustifikasi oleh fundamental ekonomi jangka panjang," ujar Fakhrul dalam keterangannya, Kamis (28/5/2026).
Menurut dia, tekanan ekonomi global yang biasanya menyebar ke berbagai sektor kini justru lebih banyak ditanggung pasar valuta asing. Ketika harga energi dunia naik, pemerintah memilih menahan inflasi dan menjaga harga domestik tetap stabil agar masyarakat tidak panik berjamaah di pasar tradisional maupun SPBU.
Akibatnya, beban tekanan ekonomi yang seharusnya terbagi rata kini menumpuk di pundak rupiah seorang diri.
"Inflasi ditahan, harga energi ditahan, tapi tekanannya tidak hilang. Akhirnya kurs rupiah yang jadi shock absorber utama," kata Fakhrul.
Fenomena itu membuat rupiah tampak seperti pegawai lembur yang harus mengerjakan semua tugas karena sektor lain diliburkan demi menjaga stabilitas sosial dan daya beli masyarakat.
Di sisi lain, pasar global juga sedang tidak ramah. Penguatan dolar AS, tingginya imbal hasil US Treasury, ketegangan geopolitik, hingga fragmentasi perdagangan internasional membuat mata uang negara berkembang ramai-ramai masuk ruang tekanan.
Namun menurut Fakhrul, faktor domestik juga ikut memperberat kondisi. Ketika kebijakan fiskal memilih menahan kenaikan harga dan menjaga inflasi tetap jinak, maka Bank Indonesia dan rupiah harus bekerja ekstra keras menghadapi pasar.
"Kalau harga domestik dibuat rigid sementara tekanan global naik terus, pasar valuta asing akhirnya bergerak paling ekstrem," ujarnya.
Ia mengaitkan situasi ini dengan teori Dornbusch Overshooting, sebuah teori ekonomi yang menjelaskan bagaimana pasar keuangan biasanya bereaksi lebih cepat dan lebih liar dibanding penyesuaian harga di sektor riil.
Dalam praktiknya, masyarakat mungkin tidak langsung melihat harga-harga melonjak drastis, tetapi tekanan itu diam-diam berpindah ke kurs rupiah yang terus melemah seperti sinyal optimisme investor ritel saat portofolio merah berjamaah.