LOCUSonline - Jagat birokrasi kembali diramaikan kabar mengejutkan. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa disebut-sebut akan meninggalkan kursi bendahara negara. Namun kabar yang beredar luas di kalangan wartawan itu langsung dibantah oleh Purbaya yang menyebut isu tersebut tidak benar.
Melansir berita detikfinance. Menanggapi isu pengunduran dirinya, Purbaya hanya tertawa dan menegaskan kabar tersebut merupakan informasi palsu.
“Ha ha ha, enggak bener lah,” jawab Purbaya singkat. melalui pesan singkat kepada wartawan, Kamis (4/6/2026)
Rumor mundurnya Purbaya muncul bersamaan dengan spekulasi adanya perombakan atau reshuffle Kabinet Merah Putih oleh Presiden Prabowo Subianto. Namun hingga kini, Istana Kepresidenan belum memberikan pernyataan resmi terkait isu tersebut.
Drama pergantian pejabat memang kerap menjadi menu wajib dalam dinamika politik nasional. Namun kali ini, kabar pergantian Menteri Keuangan harus berhadapan dengan kenyataan bahwa ekonomi membutuhkan kepastian, bukan sekadar kabar burung yang beredar sebelum sarapan.
Sebelumnya, Purbaya pernah mengungkapkan bahwa jabatan Menteri Keuangan memiliki tekanan yang jauh lebih besar dibandingkan posisinya sebelumnya sebagai Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).
Sejak dipercaya menjabat sebagai Menteri Keuangan pada September 2025, ia mengaku beban pekerjaan membuat kondisi fisiknya berubah.
"Banyak pekerjaan. Kadang saya sampai berpikir, kenapa jadi Menteri Keuangan, harusnya santai di LPS," kata Purbaya dalam sebuah acara ekonomi di Yogyakarta.
Ia bahkan membandingkan beban kerja dan kompensasi antara dua jabatan tersebut.
"Ketua LPS itu gaji lebih besar dan kerja lebih santai. Kalau Menteri Keuangan, kerja lebih berat, gaji sedikit berbeda. Delapan bulan jadi menteri, berat badan turun 10 kilogram," ujarnya.
Pernyataan tersebut menjadi gambaran bahwa posisi pengelola keuangan negara bukan sekadar kursi empuk di ruang rapat. Di balik angka APBN, nilai tukar, dan kebijakan ekonomi, terdapat tekanan besar yang harus ditanggung pejabat yang berada di garis depan.
Kini, isu mundurnya Purbaya telah dibantah. Pemerintah pun kembali menghadapi pekerjaan utama untuk menjaga stabilitas ekonomi agar publik tidak hanya disuguhi fluktuasi rumor, tetapi juga kepastian kebijakan.*****