ekonomi

Dolar Tembus Rp18.000, Dunia Usaha Mulai Rem Darurat: Lowongan Kerja Jadi Korban Pertama Pelemahan Rupiah

Jumat, 5 Juni 2026 | 14:30 WIB
Gambar Ilustrasi (Generated by Gemini Ai)

LOCUSonline - Nilai tukar rupiah kembali menjadi sorotan setelah menembus level psikologis Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis (4/6/2026). Pelemahan mata uang Garuda tersebut tidak hanya membuat pasar keuangan berdebar, tetapi juga membuat dunia usaha mulai menyalakan alarm efisiensi.

Jika biasanya perusahaan berlomba mencari tenaga baru untuk ekspansi, kini sebagian pelaku industri justru mulai menahan langkah. Perekrutan pegawai baru atau hiring freeze menjadi salah satu strategi bertahan menghadapi tekanan biaya produksi yang makin tinggi.

Melansir berita CNBC Indonesia. Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Shinta Kamdani, mengatakan tekanan terhadap nilai tukar bukanlah persoalan yang muncul dalam semalam. Dunia usaha disebut sudah merasakan dampaknya secara bertahap dalam beberapa bulan terakhir.

"Banyak perusahaan memilih melakukan efisiensi operasional, menghentikan sementara perekrutan, mengendalikan biaya yang tidak mendesak, menunda ekspansi, serta memperkuat penggunaan bahan baku lokal untuk menghadapi risiko nilai tukar," terang Shinta.

Menurutnya, pelemahan rupiah memberikan efek langsung terhadap biaya produksi karena sebagian industri masih memiliki ketergantungan besar terhadap bahan baku impor. Ketika dolar naik, biaya barang ikut melonjak, sementara ruang keuntungan perusahaan semakin menyempit.

"Pelemahan rupiah secara langsung meningkatkan biaya produksi, mempersempit margin usaha, dan mengurangi kemampuan perusahaan untuk melakukan ekspansi," kata Shinta.

Baca Juga: Rupiah Mendekati Rp18.000 per Dolar, Menkeu Sebut Pasar Lagi “Banjir Cerita”: Fondasi Ekonomi Jadi Ujian

Sektor yang paling rentan terdampak antara lain industri tekstil, kimia, petrokimia, plastik, logam dasar, elektronik hingga otomotif yang masih menggunakan banyak komponen impor.

Di tengah kondisi tersebut, dunia usaha juga menghadapi tekanan lain seperti biaya energi, logistik, dan pembiayaan yang masih tinggi. Kombinasi persoalan tersebut membuat pelaku industri menghadapi tekanan berlapis.

Ironisnya, ketika ekonomi membutuhkan tenaga kerja dan investasi baru, pelemahan rupiah justru membuat sebagian perusahaan memilih memainkan strategi bertahan. Seolah roda industri tetap berjalan, tetapi dengan rem tangan ikut tertarik.

Shinta mengungkapkan indikator kepercayaan industri juga menunjukkan tantangan yang cukup berat. Aktivitas manufaktur mengalami pelemahan dan optimisme pelaku usaha mulai turun.

"Pelemahan rupiah saat ini jauh lebih dalam dibandingkan periode sebelumnya. Kondisi ini membuat sejumlah subsektor manufaktur mengalami tekanan bahkan sebagian berada dalam fase kontraksi," ujarnya.

Berdasarkan data pasar, rupiah tercatat berada di kisaran Rp18.015 per dolar AS pada pagi perdagangan, melemah sekitar 0,42 persen. Pergerakan ini menjadi perhatian karena depresiasi terjadi relatif cepat dalam waktu kurang dari dua bulan.

Sebelumnya, rupiah sempat menembus level Rp17.000 per dolar AS pada awal April 2026. Artinya, mata uang domestik kembali melemah sekitar Rp1.000 hanya dalam hitungan puluhan hari.

Halaman:

Tags

Terkini