Pengamat ekonomi menilai pemerintah dan otoritas terkait perlu menjaga stabilitas fundamental ekonomi agar tekanan pasar tidak berubah menjadi persoalan lebih luas bagi sektor riil.
Pelemahan kurs memang bukan sekadar angka di layar perdagangan. Bagi pelaku usaha, angka Rp18.000 bukan hanya statistik, tetapi dapat berarti biaya naik, rencana ekspansi tertunda, hingga kursi kerja baru yang harus menunggu.
Sebab dalam ekonomi, ketika dolar naik terlalu tinggi, yang ikut naik bukan hanya nilai mata uang asing, tetapi juga daftar alasan perusahaan untuk berhitung ulang.*****
Artikel Terkait
Kopi Garut Dilirik Jepang, Tapi Petani Diingatkan: Aroma Floral Saja Belum Cukup untuk Menembus Pasar Premium
KA Cikuray Makin Diminati, Tiket Rp45 Ribu Berhasil Menyatukan Garut, Bandung dan Jakarta dalam Satu Gerbong Harapan
Info Harga Rupiah Hari Menuju Rp18.000? Ketika Dompet Rakyat Dipaksa Menonton Dolar Semakin Perkasa
Warteg Senen Menjerit Saat Libur Idul Adha 2026: Ketika Tanggal Merah Jadi Kabar Merah untuk Pedagang Kecil
Dolar AS Nyaris Rp18.000, Kelas Menengah Diminta Puasa Belanja: Saat Keranjang Online Tak Lagi Bersahabat
Daftar Harga Resmi BBM Pertamina Juni 2026: Pertamax Turbo Naik, Solar Non-Subsidi Turun, Pengendara Diminta Cek Pompa Sebelum Mengeluh
Resmi Berlaku: Devisa Ekspor Tak Lagi Bebas Berkeliaran, Pemerintah Minta Pulang Kampung ke Indonesia
Harga Sembako Naik, Dompet Mahasiswa Garut Ikut ‘Diet’: Ayam Minggir, Sayur Jadi Penyelamat
Rupiah Mendekati Rp18.000 per Dolar, Menkeu Sebut Pasar Lagi “Banjir Cerita”: Fondasi Ekonomi Jadi Ujian
IHSG Tumbang Hampir 5 Persen, Rupiah Melemah dan Investor Asing Angkat Kaki dari Pasar