berita-daerah

Musim Kemarau Diprediksi Panjang, Pemkab Garut Siapkan 95 Pompa Air: Sawah Jangan Sampai Tinggal Kenangan

Jumat, 15 Mei 2026 | 22:00 WIB
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Garut Ardhy Firdian. (Foto Istimewa: ANTARA/Feri Purnama)

LOCUSonline, GARUT - Pemerintah Kabupaten Garut mulai bersiap menghadapi ancaman musim kemarau panjang 2026 dengan cara yang paling realistis di tengah cuaca tak menentu: memompa air sebelum sawah berubah jadi lapangan retak-retak.

Melalui Dinas Pertanian (Dispertan), Pemkab Garut menyiapkan tim khusus di setiap kecamatan untuk bergerak cepat membantu lahan pertanian yang terdampak kekeringan. Langkah ini dilakukan menyusul prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang menyebut puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus 2026.

Kepala Dispertan Kabupaten Garut, Ardhy Firdian, mengatakan pihaknya telah menyiapkan skema tanggap cepat di tingkat kecamatan agar petani tidak hanya bisa pasrah menatap sawah kering sambil berharap hujan turun mendadak.

"Ketika ada laporan kekeringan di satu titik, maka mereka bergerak untuk melakukan pompanisasi," ujar Ardhy di Garut, Jumat.

Menurutnya, ancaman kemarau panjang tahun ini membuat pemerintah daerah harus lebih siaga sejak awal. Sebab dalam urusan pertanian, keterlambatan air beberapa hari saja bisa membuat tanaman gagal tumbuh dan petani gagal tersenyum saat panen.

Baca Juga: Sekolah Rakyat di Garut Masuk Tahap Survei: Negara Mulai Cari Tanah yang Tidak Longsor, Tidak Sengketa, dan Tidak Bikin Pusing

Sebagai bentuk antisipasi, Dispertan telah menggelar gladi posko untuk memastikan petugas di lapangan siap menghadapi perubahan iklim yang semakin sulit ditebak. Tim siaga tersebut terdiri dari dua hingga tiga orang di tiap wilayah yang bertugas memompa air dari sumber terdekat menuju lahan pertanian terdampak.

Saat ini, pemerintah daerah juga telah mendistribusikan 95 unit mesin pompa air ke berbagai kecamatan melalui Unit Pelaksana Teknis (UPT) dan Balai Penyuluhan Pertanian (BPP). Mesin-mesin itu disiapkan sebagai “pasukan darurat” penyelamat sawah ketika hujan mulai menghilang dari kalender cuaca.

"Kita sudah menyiapkan pompa air di tingkat lapangan sebanyak 95 unit yang disebar di wilayah UPT dan BPP masing-masing kecamatan," kata Ardhy.

Petani yang membutuhkan bantuan pompanisasi diminta segera berkoordinasi dengan petugas pertanian setempat. Pemerintah berharap distribusi air ini mampu menekan risiko gagal tanam maupun gagal panen yang bisa memukul ekonomi petani.

Sebab di tengah biaya pupuk, cuaca ekstrem, dan harga kebutuhan hidup yang terus naik, gagal panen bukan lagi sekadar persoalan pertanian, tetapi juga soal dapur keluarga.

Ardhy berharap langkah antisipatif tersebut bisa menjaga produktivitas pertanian Garut tetap aman selama musim kemarau berlangsung.

"Paling tidak lahan pertanian bisa diselamatkan sehingga petani tetap bisa panen dan menikmati hasil produksinya," ujarnya.

Di tengah perubahan iklim yang makin sulit diprediksi, pompa air kini bukan sekadar alat pertanian. Ia berubah menjadi simbol perjuangan agar sawah tetap hijau dan petani tidak hanya memanen kekhawatiran.*****

Tags

Terkini