"Kita dorong mereka menjadi dai zakat di media sosial sehingga literasi zakat bisa menjangkau lebih luas, terutama generasi muda," ujar Arif.
Dengan memanfaatkan platform digital, diharapkan pesan tentang zakat bisa lebih viral dan mudah diterima oleh kalangan milenial dan Gen Z.
Dai Preneur: Mengajarkan Zakat sebagai Instrumen Ekonomi
Baznas Kota Bandung juga melatih para penyuluh agama dan dai untuk menjadi dai preneur. Konsep ini menggabungkan dakwah dengan kewirausahaan berbasis zakat.
"Para dai ini kita latih supaya bukan hanya menjadi konsultan bayar zakat, tetapi juga konsultan pemberdayaan ekonomi melalui zakat, " katanya.
Pendekatan ini penting agar zakat tidak hanya dipahami sebagai kewajiban ritual, tetapi juga sebagai instrumen yang dapat menggerakkan ekonomi umat dan mengentaskan kemiskinan.
Dengan berbagai program inovatif ini, Baznas Kota Bandung optimistis dapat menjemput potensi zakat sebesar Rp1,8 triliun. Literasi yang baik, sejak dini hingga perguruan tinggi, akan menciptakan ekosistem zakat yang kuat. Zakat tidak lagi dilihat sebagai beban, tetapi sebagai peluang untuk memberdayakan masyarakat dan membangun peradaban yang lebih baik. (**)