[Locusonline.co] JAKARTA – Tekanan terhadap nilai tukar rupiah semakin berat. Di tengah eskalasi konflik Timur Tengah dan arus modal asing yang keluar, rupiah ditutup di level Rp16.974 per dolar AS pada perdagangan Senin (9/3/2026) berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dolar Rate (Jisdor). Secara tahun kalender berjalan, rupiah telah terdepresiasi 1,51 persen.
Para ekonom memperingatkan bahwa situasi ini bisa menjadi lebih buruk. Tanpa perubahan mendasar dalam kebijakan fiskal dan moneter, risiko depresiasi drastis hingga menembus Rp20.000 per dolar AS pada semester II-2026 menjadi ancaman nyata.
Fundamental Rupiah yang Rapuh Sebelum Perang
Ekonom dari Bright Institute, Awalil Rizky, menjelaskan bahwa pelemahan rupiah tidak semata-mata disebabkan oleh konflik geopolitik terkini. Fundamental rupiah sebenarnya sudah menunjukkan tanda-tanda kerapuhan sejak tahun lalu.
"Pada 2025 neraca pembayaran telah defisit. Lebih banyak keluar dibanding masuk atau mengurangi devisa. Artinya, sebelum ada perang pun, modal keluar telah mulai terjadi, meski masih dalam nilai relatif kecil," katanya.
Data Bank Indonesia (BI) membenarkan hal ini. Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) pada 2025 berbalik defisit setelah pada 2024 mencatatkan surplus US$7,2 miliar. Defisit ini bahkan mematahkan tren surplus NPI yang bertahan selama enam tahun berturut-turut.
Arus Modal Keluar 2025 (Rp)
| Instrumen | Nilai Jual Neto |
|---|---|
| Pasar Saham | Rp 17 triliun |
| Sekuritas Rupiah BI (SRBI) | Rp 110,11 triliun |
| Pasar SBN | + Rp 2,01 triliun (beli neto) |
| Total Arus Keluar Bersih | Rp 125,1 triliun |
Risiko 'Crash': Ketika Fundamental Buruk Bertemu Sentimen Negatif
Awalil menjelaskan bahwa pergerakan rupiah dipengaruhi oleh dua aspek: fundamental (dinamika permintaan-penawaran valas) dan teknikal (sentimen, persepsi, spekulasi).
"Daya tahan eksternal Indonesia sedang tidak kuat. Ketika aspek fundamental memburuk ditimpali aspek teknikal yang berkepanjangan dalam artian sentimen negatif, risiko crash meningkat," ujarnya.