Dengan fundamental yang sudah defisit, ditambah sentimen negatif dari berbagai lembaga pemeringkat (MSCI, Moody's, Fitch), arus modal keluar berisiko semakin besar dan cepat. Jika ini terjadi, rupiah bisa mengalami depresiasi drastis, bukan sekadar pelemahan bertahap.
"Tanpa ada perubahan mendasar dalam kebijakan fiskal pemerintah… akan ada risiko crash nilai tukar pada semester II-2026. Bukan pelemahan alamiah kisaran Rp17.000, melainkan di atas Rp20.000," tutur Awalil.
Cadangan Devisa Tergerus
Untuk menstabilkan rupiah, Bank Indonesia (BI) melakukan intervensi di pasar. Namun, operasi ini menguras cadangan devisa. Per Februari 2026, cadangan devisa tercatat US$151,9 miliar, turun US$2,7 miliar dibanding bulan sebelumnya. Penurunan ini juga dipengaruhi oleh pembayaran utang luar negeri pemerintah dan penerimaan pajak.
Lonjakan Harga Minyak: Tekanan Ganda untuk Rupiah dan APBN
Konflik di Timur Tengah memicu lonjakan harga minyak mentah dunia. Minyak Brent sempat menyentuh US$114 per barel dan kini berada di kisaran US$106 per barel. Sebagai perbandingan, asumsi harga minyak dalam APBN 2026 adalah US$70 per barel.
Head of Macro, Finance, and Political Economy Research Group LPEM FEB UI, Jahen Fachrul Rezki, menjelaskan dampak berantainya:
- Tekanan Inflasi: Kenaikan harga minyak mendorong inflasi melalui kenaikan biaya logistik, distribusi pangan, dan biaya produksi industri.
- Tekanan Rupiah: Kebutuhan valas untuk impor minyak meningkat, melemahkan rupiah.
- Tekanan Neraca Transaksi Berjalan: Pada 2025, neraca transaksi berjalan sudah defisit US$1,5 miliar (0,1% PDB). Kenaikan impor minyak akan memperlebar defisit ini.
- Tekanan APBN: Subsidi energi membengkak, berisiko mendorong defisit APBN melampaui batas 3% PDB.
Dilema Pemerintah: Subsidi Membengkak atau Harga BBM Naik?
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa membuka kemungkinan penyesuaian harga BBM bersubsidi jika harga minyak terus tinggi.
"Kami punya pengalaman mengatasi itu. Kalau memang anggarannya enggak kuat sekali, enggak ada jalan lain, ya, kami share dengan masyarakat sebagian. Artinya, ada kenaikan harga BBM kalau emang harganya tinggi sekali," jelas Purbaya.
Simulasi Defisit APBN
| Skenario Harga Minyak Rata-rata | Proyeksi Defisit APBN |
|---|---|
| APBN 2026 | 3,6% – 3,7% |
Jika harga minyak rata-rata US$92 per barel sepanjang tahun, defisit APBN berpotensi membengkak hingga 3,6-3,7% , melampaui batas aman 3%. Pemerintah akan merespons dengan: