ekonomi

Pertamina Temukan 11 Miliar Barel “Minyak Bukan Kaleng-Kaleng”, Investor Masih Dicari, Fiskal Masih Dinego

Kamis, 21 Mei 2026 | 13:05 WIB
Wakil Direktur Utama PT Pertamina (Persero), Oki Muraza (Foto Istimewa: CNBC Indonesia/Muhammad Sabki )

LOCUSonline, JAKARTA - Di saat masyarakat masih sibuk antre BBM dan mengeluh harga bensin naik turun kayak hubungan tanpa kepastian, PT Pertamina (Persero) justru membawa kabar yang bikin industri migas mendadak melek, Indonesia ternyata punya potensi minyak non-konvensional hingga 11 miliar barel.

Bukan minyak biasa, bukan juga minyak goreng subsidi hilang di pasar. Kali ini yang ditemukan adalah cadangan migas non-konvensional (MNK), jenis sumber energi yang butuh teknologi canggih, modal jumbo, dan tentu saja birokrasi yang semoga tidak ikut-ikutan non-konvensional.

Wakil Direktur Utama Pertamina, Oki Muraza, mengungkapkan temuan tersebut dalam ajang IPA Convex di ICE BSD, Rabu (20/5/2026). Ia menyebut potensi oil in place atau minyak yang tersimpan di perut bumi mencapai 11 miliar barel.

"Jadi kabar baiknya adalah baru-baru ini kami memiliki 11 miliar barel minyak di tempat untuk non-konvensional," ujar Oki.

Baca Juga: Isfy Putri dan Ayam Bengras Garut: Saat Anak Muda Pilih Jualan Ayam Rp7 Ribu daripada Cuma Jadi Penonton Kesuksesan Orang Lain

Meski terdengar fantastis, Pertamina mengakui perjalanan menuju produksi massal tidak semudah bikin konten motivasi investasi di media sosial. Perusahaan kini masih sibuk membangun ekosistem, istilah elegan untuk menggambarkan bahwa proyek besar tetap butuh dukungan aturan, investor, teknologi, dan tentu saja restu fiskal dari pemerintah.

Menurut Oki, pengembangan migas non-konvensional memerlukan kebijakan fiskal yang lebih menarik agar investor global tidak hanya datang untuk seminar lalu pulang membawa goodie bag.

Pertamina juga berencana menggandeng berbagai perusahaan jasa pertambangan dunia demi meniru kesuksesan kawasan energi seperti Permian Basin, yang selama ini dikenal sebagai salah satu ladang minyak terbesar dan paling produktif di Amerika Serikat.

"Pekerjaan rumah kami saat ini pada dasarnya adalah bagaimana kami dapat memberikan advokasi kepada pemerintah kami untuk memiliki fiskal, kemudian kami mencoba mengundang begitu banyak mitra perusahaan jasa untuk menciptakan ekosistem," tambahnya.

Baca Juga: Rupiah Tembus Rp17.663 per Dolar AS, Prabowo Minta Rakyat Tenang Orang Desa Tidak Pakai Dolar

Di tengah ambisi mengejar minyak “masa depan”, Pertamina ternyata belum move on dari lapangan tua. Perusahaan tetap fokus memaksimalkan produksi dari sumur-sumur migas lama melalui teknologi enhanced oil recovery (EOR) atau metode pemulihan minyak lanjutan.

Salah satu target utama ada di Lapangan Minas yang disebut masih menyimpan potensi cadangan sekitar 4 miliar barel.

"Kami masih memiliki sekitar 4 miliar barel di satu lapangan di Minas, ini adalah pekerjaan rumah lain yang kami lakukan," kata Oki.

Temuan ini menjadi sinyal bahwa Indonesia sebenarnya masih duduk di atas harta karun energi. Hanya saja, seperti banyak proyek besar lainnya, tantangannya bukan sekadar menemukan minyak, tetapi memastikan semuanya bisa diproduksi tanpa tenggelam di tengah urusan regulasi, investasi, dan rapat koordinasi yang kadang lebih panjang dari pipa migas itu sendiri.*****

Tags

Terkini