LOCUSonline - Gejolak pasar modal kembali menguji ketahanan investor Indonesia. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan dalam beberapa perdagangan terakhir akibat kombinasi pelemahan rupiah, penguatan dolar Amerika Serikat, serta keluarnya dana asing dari pasar domestik.
Namun, pengamat pasar modal mengingatkan investor agar tidak mengambil keputusan secara terburu-buru. Koreksi harga saham, menurutnya, bukan selalu tanda kehancuran, melainkan momen untuk memilah kembali kualitas investasi.
Melansir berita detikfinance. Pengamat Pasar Modal Indonesia, Reydi Octa, mengatakan investor sebaiknya tidak mengikuti kepanikan pasar yang sering muncul ketika grafik merah memenuhi layar perdagangan.
"Yang paling penting tetap mengevaluasi fundamental emiten. Kalau kinerja dan prospeknya masih kuat, koreksi seperti ini seharusnya dihadapi dengan disiplin dan selektif, bukan menjual karena emosi," ujar Reydi, Kamis (4/6/2026).
Baca Juga: IHSG Tumbang Hampir 5 Persen, Rupiah Melemah dan Investor Asing Angkat Kaki dari Pasar
IHSG sebelumnya mengalami tekanan besar pada perdagangan Rabu (4/6), dengan penurunan sekitar 4 persen hingga berada di level 5.941. Tekanan berlanjut pada perdagangan berikutnya, meski indeks mampu mengurangi pelemahan menjadi sekitar 1,59 persen di posisi 5.846.
Menurut Reydi, tekanan tersebut dipengaruhi kondisi ekonomi global dan domestik, terutama pelemahan nilai tukar rupiah serta arus keluar modal asing.
"Selama sentimen makro ini masih menjadi perhatian pasar, tekanan terhadap IHSG kemungkinan masih berlangsung," katanya.
Meski demikian, ia menilai situasi tersebut dapat menjadi peluang bagi investor jangka panjang untuk melakukan akumulasi secara bertahap terhadap saham yang memiliki dasar bisnis kuat.
"Bagi investor jangka panjang, kondisi seperti ini justru bisa menjadi kesempatan memilih saham berkualitas dengan valuasi yang lebih menarik," jelasnya.
Baca Juga: Info IHSG Tumbang ke Zona Merah, Investor Lokal Kembali Diajak Latihan Mental Gratis
Sementara itu, perencana keuangan Andy Nugroho menyebut investor yang ingin mengurangi risiko dapat mempertimbangkan instrumen alternatif seperti reksa dana, khususnya yang berbasis pendapatan tetap.
Menurutnya, reksa dana saham masih memiliki potensi terdampak karena pergerakan pasar ekuitas yang belum stabil.
"Dalam kondisi seperti sekarang, reksa dana pendapatan tetap bisa menjadi pilihan karena pergerakannya relatif lebih stabil dibandingkan instrumen yang langsung mengikuti saham," kata Andy.
Selain reksa dana, Andy juga menyebut Surat Berharga Negara (SBN) dan sukuk ritel sebagai pilihan investasi dengan tingkat risiko yang lebih rendah karena diterbitkan pemerintah.
Tags
Artikel Terkait
-
IHSG Dibuka Menguat 1,43%! Sentimen Deeskalasi Konflik Timur Tengah dan Kebijakan WFH Jadi Pendorong
-
IHSG Ditutup Menguat di Tengah Ketidakpastian Gencatan Senjata Iran-AS, Sektor Energi Jadi Primadona
-
IHSG Bergejolak, Jaksa Agung Tawarkan Denda Damai Sebagai Obat Ekonomi, Pasar Modal Disuruh Lebih Jujur
-
Info IHSG Anjlok ke Level 6.000, Investor Panik Massal Saat Bursa Asia Pesta Hijau
-
Info IHSG Anjlok Sendirian di Asia, Investor Panik Usai MSCI dan Kebijakan Ekspor Prabowo Bikin Pasar “Masuk Angin”
-
Info IHSG Hari Ini Hijau Tipis di Awal Pekan, Investor Diajak Bersyukur Meski Portofolio Masih “Diet Ketat”
-
Info IHSG Tumbang ke Zona Merah, Investor Lokal Kembali Diajak Latihan Mental Gratis
-
Info IHSG Hari Ini Sempat Nyungsep lalu Bangkit Lagi, Investor Masih Bingung Antara Cuan atau Cemas
-
Info IHSG Hari ini Melemah dan Investor Asing Angkat Kaki, Saham Perbankan Jadi Korban Utama Aksi Jual Akhir Pekan
-
IHSG Tumbang Hampir 5 Persen, Rupiah Melemah dan Investor Asing Angkat Kaki dari Pasar