ekonomi

IHSG Terjun Bebas, Investor Diminta Jangan Ikut Jatuh: Pasar Saham Bukan Kasino Emosi

Jumat, 5 Juni 2026 | 14:05 WIB
Gambar Ilustrasi (Generated by Gemini Ai)

LOCUSonline - Gejolak pasar modal kembali menguji ketahanan investor Indonesia. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan dalam beberapa perdagangan terakhir akibat kombinasi pelemahan rupiah, penguatan dolar Amerika Serikat, serta keluarnya dana asing dari pasar domestik.

Namun, pengamat pasar modal mengingatkan investor agar tidak mengambil keputusan secara terburu-buru. Koreksi harga saham, menurutnya, bukan selalu tanda kehancuran, melainkan momen untuk memilah kembali kualitas investasi.

Melansir berita detikfinance. Pengamat Pasar Modal Indonesia, Reydi Octa, mengatakan investor sebaiknya tidak mengikuti kepanikan pasar yang sering muncul ketika grafik merah memenuhi layar perdagangan.

"Yang paling penting tetap mengevaluasi fundamental emiten. Kalau kinerja dan prospeknya masih kuat, koreksi seperti ini seharusnya dihadapi dengan disiplin dan selektif, bukan menjual karena emosi," ujar Reydi, Kamis (4/6/2026).

Baca Juga: IHSG Tumbang Hampir 5 Persen, Rupiah Melemah dan Investor Asing Angkat Kaki dari Pasar

IHSG sebelumnya mengalami tekanan besar pada perdagangan Rabu (4/6), dengan penurunan sekitar 4 persen hingga berada di level 5.941. Tekanan berlanjut pada perdagangan berikutnya, meski indeks mampu mengurangi pelemahan menjadi sekitar 1,59 persen di posisi 5.846.

Menurut Reydi, tekanan tersebut dipengaruhi kondisi ekonomi global dan domestik, terutama pelemahan nilai tukar rupiah serta arus keluar modal asing.

"Selama sentimen makro ini masih menjadi perhatian pasar, tekanan terhadap IHSG kemungkinan masih berlangsung," katanya.

Meski demikian, ia menilai situasi tersebut dapat menjadi peluang bagi investor jangka panjang untuk melakukan akumulasi secara bertahap terhadap saham yang memiliki dasar bisnis kuat.

"Bagi investor jangka panjang, kondisi seperti ini justru bisa menjadi kesempatan memilih saham berkualitas dengan valuasi yang lebih menarik," jelasnya.

Baca Juga: Info IHSG Tumbang ke Zona Merah, Investor Lokal Kembali Diajak Latihan Mental Gratis

Sementara itu, perencana keuangan Andy Nugroho menyebut investor yang ingin mengurangi risiko dapat mempertimbangkan instrumen alternatif seperti reksa dana, khususnya yang berbasis pendapatan tetap.

Menurutnya, reksa dana saham masih memiliki potensi terdampak karena pergerakan pasar ekuitas yang belum stabil.

"Dalam kondisi seperti sekarang, reksa dana pendapatan tetap bisa menjadi pilihan karena pergerakannya relatif lebih stabil dibandingkan instrumen yang langsung mengikuti saham," kata Andy.

Selain reksa dana, Andy juga menyebut Surat Berharga Negara (SBN) dan sukuk ritel sebagai pilihan investasi dengan tingkat risiko yang lebih rendah karena diterbitkan pemerintah.

Halaman:

Tags

Terkini