LOCUSonline, JAKARTA - Di era serangan siber makin canggih dan birokrasi makin dipenuhi dokumen serta regulasi, Badan Siber dan Sandi Negara atau BSSN rupanya sadar satu hal penting, dimana ancaman bukan cuma datang dari hacker, tapi juga bisa muncul dari sengketa administrasi negara yang salah prosedur.
Karena itu, tim penyelesaian sengketa dari Biro Hukum dan Komunikasi Publik BSSN mengikuti In House Training Pelatihan Intensif Hukum Acara Tata Usaha Negara yang digelar Justitia Training Center pada 13 Mei 2026.
Pelatihan tersebut difokuskan pada penguatan pemahaman mekanisme penyelesaian sengketa tata usaha negara, terutama di tengah kompleksitas tata kelola pemerintahan modern yang kini bukan hanya soal pelayanan publik, tetapi juga soal legalitas setiap keputusan administrasi.
Sebab di negeri yang dikenal rajin membuat aturan ini, satu tanda tangan pejabat bisa berubah menjadi gugatan panjang kalau dianggap melanggar prosedur.
Presiden Direktur Justitia Training Center, Andriansyah Tiawarman, mengatakan pihaknya mengapresiasi kepercayaan yang diberikan BSSN untuk menyelenggarakan pelatihan tersebut.
"Suatu kehormatan bagi kami dapat menjadi bagian dalam upaya peningkatan kapasitas sumber daya manusia, khususnya dalam penguatan pemahaman hukum acara tata usaha negara di lingkungan BSSN," ujarnya saat membuka kegiatan.
Menurut Andriansyah, perkembangan administrasi pemerintahan saat ini menuntut setiap lembaga negara memahami legalitas kebijakan dan tindakan administrasi secara menyeluruh. Ia menegaskan bahwa Hukum Acara Tata Usaha Negara bukan sekadar urusan sidang di pengadilan, tetapi menjadi instrumen penting untuk memastikan setiap kebijakan pemerintah tetap berjalan sesuai asas pemerintahan yang baik.
Dengan kata lain, di tengah derasnya digitalisasi dan transformasi birokrasi, pejabat negara sekarang tidak cukup hanya cepat bekerja. Mereka juga harus paham mana keputusan yang sah secara hukum dan mana yang berpotensi jadi bahan gugatan.
Andriansyah menilai format pelatihan intensif dengan peserta terbatas justru membuat diskusi lebih mendalam dan aplikatif.
"Dengan peserta yang terbatas dan seluruhnya berasal dari unit penyelesaian sengketa, forum ini menjadi lebih eksklusif dan membuka ruang diskusi lebih leluasa mengenai dinamika sengketa tata usaha negara dalam pelaksanaan tugas sehari-hari," katanya.
Ia juga menyebut Justitia Training Center selama beberapa tahun terakhir telah dipercaya berbagai kementerian, lembaga negara, BUMN, hingga profesi hukum untuk menyelenggarakan pelatihan dan sertifikasi kompetensi di bidang hukum.
Melalui pelatihan ini, peserta diharapkan mampu meningkatkan pemahaman terkait penyelesaian sengketa tata usaha negara sekaligus memperkuat profesionalisme dalam menjalankan tugas di lingkungan BSSN.
Di tengah era digital yang serba cepat, pelatihan semacam ini menjadi pengingat bahwa teknologi secanggih apa pun tetap bisa tersandung satu masalah klasik birokrasi, administrasi yang tidak tertib dan keputusan yang cacat prosedur.
Artikel Terkait
Nikah Massal Gratis di Kutai Kartanegara, Cinta Disponsori Perusahaan Bikin Status Hukum Sah
Nama Hakim Terseret Kasus Daycare Little Aresha Yogyakarta, Menko PMK Pastikan Proses Hukum Tetap Jalan
Uji KUHAP di Mahkamah Konstitusi Ketika Keadilan Diingatkan agar Tidak Pilih-Pilih Telinga
Skandal Mega Korupsi BIJ Garut: Dari Aliran Dana Haram Rp 50 Miliar Seret Oknum DPRD, GLMPK Desak Jaksa Bertindak!
Relawan Prabowo Siapkan Langkah Hukum Usai Pernyataan Amien Rais, Kritik Politik Berubah Jadi Drama Tuduhan
Tim Hukum Roy Suryo-dr Tifa Minta Kejagung Hentikan Kasus, Dari P19 Molor hingga Pasal Nyasar
Yusril Bantah Isu Ijazah Jokowi: Ketika Hoaks Lebih Produktif dari Klarifikasi Resmi
KUHP Nasional 2023 Hapus Pidana Minimum Khusus: Hakim Akhirnya Punya Ruang Bernapas, Tapi Tidak untuk Koruptor dan Teroris
Polemik Amien Rais vs Prabowo Berlanjut, Kementerian Komunikasi dan Digital Siapkan Jalur Hukum Berbasis UU ITE
Pemeriksaan Internal Kejati NTT: Pengacara Dipanggil, Jaksa Diperiksa, Transparansi Diuji di Ruang Lantai Tiga